IFBC Banner

Sosok Johanna Masdani, Aktivis Pemuda-Pemudi Perintis Kemerdekaan Indonesia

Senin, 29 November 2021 – 13:02 WIB

Johanna Tumbuan Masdani, tokoh perintis kemerdekaan Indonesia (Foto: Istimewa)

Johanna Tumbuan Masdani, tokoh perintis kemerdekaan Indonesia (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Johanna Tumbuan Masdani (Jo Masdani) merupakan seorang tokoh turut hadir dalam peristiwa-peristiwa penting sejarah Indonesia dan menjadi perintis kemerdekaan.

Wanita kelahiran Amurang, Minahasa, Sulawesi Utara, Hindia Belanda pada 29 November 1910 itu, termasuk di antara 71 pemuda yang hadir dalam Kongres Pemuda Kedua pada bulan Oktober 1928 dan turut serta mengikrarkan Sumpah Pemuda.

 

Sebagai aktivis pemuda-pemudi menjelang kemerdekaan, Johanna banyak berjumpa dengan tokoh-tokoh lain seperti Mohammad Yamin, Rusmali, dan Assaat. Ia pun bertemu dengan suaminya yang juga seorang tokoh pergerakan kemerdekaan bernama Masdani.

Johanna pun turut menjadi saksi sejarah detik-detik Proklamasi Indonesia yang dilakukan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945.

Dalam catatannya ia pernah menulis, "Roda revolusi Indonesia tidak dapat berjalan tanpa wanita. Demi kemerdekaan sampai titik darah penghabisan Merdeka atau Mati, tanpa pamrih membela bangsa dan negara tanah air Indonesia tercinta."

Selain itu, dirinya juga ikut serta menyusun konsep pembangunan Tugu Proklamasi yang sederhana di depan rumah Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 (kini Jalan Proklamasi) di Jakarta. Tugu ini kemudian dibongkar oleh Bung Karno, namun dibangun kembali pada tahun 1980-an.

Dirinya pun pernah menjadi guru di Perguruan Rakyat di Gang Kenari, Jakarta, saat bantuan dari orangtuanya di kampung halaman terhenti. Johanna juga aktif dalam Palang Merah Indonesia, menjadi pembimbing Pandu Rakyat Indonesia, serta menjadi aktivis sosial Pemuda Puteri Indonesia.

Johanna pernah menempuh pendidikan sebagai seorang mahasiswa psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Setelah lulus ia mengabdikan diri sebagai dosen psikiatri di almamaternya sejak 1961.

Pada tahun 1970-an, ia sempat mengambil pendidikan lanjutan di Amerika Serikat dan Inggris setelah suaminya meninggal pada bulan Oktober 1967. Hampir sama seperti suaminya, Johanna banyak mendapat penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia.

Pada tahun 1953, ia memperoleh medali Sewindu Angkatan Perang Republik Indonesia dari Menteri Pertahanan Keamanan Ali Sastroamidjojo. Pada tahun 1958, ia mendapat Bintang Satya Gerilya dari Presiden Soekarno.

Pada tahun 1967 semasa Soeharto, ia mendapat Bintang Satyalancana Penegak. Ia dianugerahi Bintang Mahaputera Utama pada tahun 1998 oleh Presiden B. J. Habibie. Secara keseluruhan, Johanna mendapat delapan bintang dari Pemerintah RI.

Namun, Johanna meninggal pada tanggal 13 Mei 2006 dan kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata pada tanggal 15 Mei 2006.