Tragedi Kecelakaan Lion Air JT 538 di Solo, Tewaskan Peserta Muktamar NU

Selasa, 30 November 2021 – 11:32 WIB

Pesawat Lion Air mengalami kecelakaan (Foto: Istimewa)

Pesawat Lion Air mengalami kecelakaan (Foto: Istimewa)

SOLO, REQnews - Pesawat MD-82 milik maskapai Lion Air dengan kode penerbangan JT 538 tergelincir saat melakukan pendaratan di Bandara Adisumarmo di Solo, Jawa Tengah pada 30 November 2004 akibat cuaca buruk.

Sebelum kecelakaan, pesawat yang mengangkut 156 penumpang tersebut awalnya melandas dari Jakarta dengan tujuan Surabaya pada pukul 17.00 WIB. Sebelum mendarat di Bandara Internasional Juanda, Surabaya, pesawat transit terlebih dahulu di Solo.

Sejak awal keberangkatan hujan lebat disertai petir sudah mulai nampak. Ketika mendarat pukul 18.15 WIB, pesawat seolah tidak dapat dihentikan sehingga keluar landasan.

Saat itu, badan pesawat yang membawa 156 penumpang menghantam pagar makam dan menubruk sejumlah makam penduduk di Desa Ngesrep, Kecamatan Ngemplak. Badan pesawat pun terbelah menjadi dua, sementara badan bagian bawah dari tengah hingga depan hancur.

Dari peristiwa itu sebanyak 26 orang tewas, 55 orang luka berat, dan 63 orang lainnya luka ringan. Beberapa pengurus Nahdlatul Ulama (NU) juga menjadi korban dalam kecelakaan tersebut.

Mereka adalah peserta yang akan ikut Muktamar ke-31 Nahdlatul Ulama di Donohudan, Boyolali. Salah satu korban adalah KH Yunus Muhammad yang menjabat Ketua Komisi VIII DPR kala itu.

Saat pesawat berhenti, kedua mesin pesawat masih hidup, tetapi seluruh panel di kokpit hancur. Sementara menurut Direktur Utama Lion Air saat itu, Rusdi Kirana, pesawat Lion Air MD-82 yang mengalami kecelakaan di Bandara Adi Sumarmo dalam kondisi layak terbang.

Menurutnya, faktor penyebab kecelakaan tersebut akibat cuaca buruk. Ia juga mengatakan bahwa pesawat sudah dalam posisi yang tepat untuk mendarat.

Namun, hempasan angin yang cukup kencang dari arah belakang pesawat menyebabkan pesawat terus meluncur dan terdorong keluar sekitar 100 meter dari landasan pacu.

Diduga, pesawat tidak dapat menyentuh landasan dengan mulus dan terpental hingga ujung landasan karena ada genangan air yang disebut hydro planning di landasan. Akibatnya, pesawat pun tidak dapat direm dengan sempurna.