IFBC Banner

Mengenang Tragedi Granat Cikini, Percobaan Pembunuhan Presiden Soekarno yang Gagal

Rabu, 01 Desember 2021 – 17:07 WIB

Presiden Soekarno (Foto: Boombastis)

Presiden Soekarno (Foto: Boombastis)

JAKARTA, REQnews - Presiden Indonesia pertama Ir. Soekarno hampir kehilangan nyawa karena dilempari granat oleh anak buahnya Kartosuwiryo. Tragedi itu terjadi pada 30 November 1957 atau dikenal dengan tragedi cikini.

IFBC Banner


Saat itu Bung karno sedang berjalan keluar meninggalkan acara malam amal di Perguruan Cikini, Jakarta, tempat dua anak Soekarno bersekolah.

Malam itu, Soekarno sebagai orang tua murid dari Megawati Soekarnoputri dan Guntur Soekarnoputra sedang menghadiri acara amal dalam rangka ulang tahun ke-15 Sekolah Rakjat Perguruan Tjikini.

Tak lama, dirinya langsung undur diri sesaat acara selesai meninggalkan kedua anaknya yang masih ingin mengikuti acara pemutaran film.

Saat menginjakkan kaki di luar gedung, tak disangka presiden Soekarno, diserbu oleh 6 lemparan granat yang 5 di antaranya meledak seketika. Akibatnya, 10 orang meninggal dunia dan 48 lainnya luka-luka. Salah satu korban jiwa adalah pengawal presiden, dan banyak anak-anak yang mengalami luka parah. Soekarno sendiri selamat dari tragedi tersebut.

Pada saat itu Bung Karno turun dari lantai dua melalui tangga sempit. Hati Bung Karno sedang berbunga-bunga, ketika memainkan rambut seorang anak yang berjalan di sebelah kiri dan menggendong anak yang lain di sebelah kanan.

Bung Karno tengah dikerumuni anak-anak.

Ketika sampai di luar, pintu mobil kepresidenan telah terbuka disusul isyarat kepergian presiden.

Komandan pasukan pengawal berteriak memberi aba-aba, “Hormat…!!!”

Saat orang-orang berhenti sejenak untuk melakukan penghormatan, sepersekian detik sebuah granat meledak. Dari sebelah kiri gedung dilemparkan sebuh granat lagi. Dari sebelah kanan menyusul yang lain.

Granat yang keempat dilemparkan dari seberang jalan meremukkan sisi lain mobil. Anak-anak berteriak dan lari ketakutan memasuki gedung sekolah.

Tamu-tamu berguling ke bawah kendaraan dan masuk selokan. Puluhan orang kena. Ratusan terbanting ke tanah. Bung Karno melihat ledakan membuat seorang inspektur polisi terlontar menghantam sebuah tiang. Darah berserakkan.

Bung Karno bersama ajudannya lari menyeberangi jalan. Dalam keadaan gelap dan panik, Bung Karno terjatuh ke tanah. Sang ajudan menolong Bung Karno, lalu mereka lari ke sebuah rumah milik seorang Belanda.

Lalu, muncul lagi ledakan yang lelima. Dalam beberapa menit polisi dan tentang sudah berada di tempat kejadian.

 

 

Upaya pembunuhan presiden itu dilakukan oleh anggota Gerakan Anti Komunis pimpinan Kolonel Zulkifli Lubis. S.Jusuf Ismail Tasrif Hoesain dan Sa'adon Muhamadadalah pelaku utama dari peristiwa ini, di mana keduanya adalah pemuda Islam fanatik dari GPII yang sangat menentang komunisme. Para pelaku juga sangat dipengaruhi oleh pemberontak DI/TII.