Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!
Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!

Pidato Integralistik di Gedung Chuo

Jumat, 05 Juli 2019 – 17:30 WIB

Prof Dr Soepomo (Foto: istimewa)

Prof Dr Soepomo (Foto: istimewa)

REQnews -  Tepuk tangan membahana di gedung Chuo Sangi In di Jalan Pejambon 6 Jakarta Pusat pada tanggal 31 Mei 1945. Mr Soepomo yang menjadi pemicu tepuk tangan, tampak tenang saja. Mengapa hadirin bertepuk tangan? Sang Mister mengungkapkan buah pemikiran dan gagasannya tentang kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dengan tegas dia mengatakan, selain atas dasar Pancasila, Indonesia cocok dengan model integralistik.“………bahwa jika kita hendak mendirikan negara Indonesia yang sesuai dengan keistimewaan sifat dan corak masyarakat Indonesia, maka negara kita harus berdasarkan atas aliran pikiran (staatsidee) negara yang integralistik, negara yang bersatu dengan seluruh rakyatnya, yang mengatasi seluruh golongannya dalam lapangan apa pun.”

Paham negara integralistik antitesis dengan paham negara individual-liberal dan paham komunis (sosialis). Integralistik, berarti menjunjung nilai-nilai kekeluargaan dan kebersamaan. Integralistik (kebersamaan) menyatukan berbagai golongan, individu dan kelas-kelas. Konsep semacam ini cocok dengan karakteristik masyarakat Indonesia. tak pelak, pendapat Soepomo ini didukung berbagai pihak, tidak terkecuali Ir. Sukarno.

Di dalam paham integralistik, negara merupakan susunan masyarakat yang integral dan semua anggota masyarakat menjadi bagian di dalamnya. Negara juga tidak memihak pada golongan yang paling kuat, golongan kaya, golongan bangsawan, tidak mengutamakan kepentingan pribadi atau golongan, melainkan mengutamakan semua golongan. Integralistik juga sebenarnya gabungan paham individualisme dan sosialisme kemudian menggabungkan kemauan rakyat dengan penguasa (negara).

Sayangnya, Ia tidak mewariskan buku tentang pahamnya itu, tetapi berbagai buku hukum dan kenegaraan tentang pemikirannya telah ditulis oleh berbagai penulis generasi berikutnya. Tidak ada juga biografi mendalam tentang Soepomo, kecuali buku yang ditulis Soegito (1977) berdasarkan proyek Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Mantan Jaksa Agung, Marsilam Simanjuntak berpendapat, Soepomo adalah sumber dari munculnya fasisme di Indonesia. Soepomo mengagumi sistem pemerintahan Jerman dan Jepang.

Dilahirkan di Sukoharjo, Jawa Tengah, 22 Januari 1903, Soepomo berasal dari keluarga priyayi, Jawa. Kakek dari pihak ayahnya adalah Raden Tumenggung Reksowardono, Bupati Anom Sukoharjo sedangkan kakek dari pihak ibu-nya, Raden Tumenggung Wirjodiprodjo adalah Bupati Nayaka Sragen.

Ia sempat mengenyam pendidikan di ELS (European Lagere School) di Boyolali (1917), MULO (Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs) di Solo (1920) dan menyelesaikan pendidikan kejuruan hukum di Bataviasche Rechsschool di Batavia pada tahun 1923. Sebagai putra priyayi yang cerdas, Soepomo diuntungkan sehingga dapat mengakses pendidikan tinggi.

Periode 1924-1927 Soepomo mendapat kesempatan melanjutkan pendidikannya ke Rijksuniversiteit Leiden di Belanda di bawah bimbingan Cornelis van Vollenhoven, profesor hukum yang dikenal sebagai ‘arsitek’ ilmu hukum adat Indonesia dan ahli hukum internasional, salah satu konseptor Liga Bangsa-bangsa.

Soepomo menulis disertasi doktoralnya berjudul Reorganisatie van het Agrarisch Stelsel in het Gewest Soerakarta (Reorganisasi Sistem Agraria di Wilayah Surakarta) tidak saja mengupas sistem agraria tradisional di Surakarta, tetapi juga secara tajam menganalisis hukum-hukum kolonial yang berkaitan dengan pertanahan di wilayah Surakarta.

Ditulis dalam bahasa Belanda, kritik Soepomo atas wacana kolonial tentang proses transisi agraria ini dibungkus dalam bahasa yang halus dan tidak langsung, menggunakan argumen-argumen kolonial sendiri.

Mengawali karirnya sebagai pegawai Landraad (Pengadilan Negeri) di Yogyakarta tahun 1927, Soepomo pindah ke Department van Justitie di Jakarta dan menjadi pejabat tinggi di sana, merangkap sebagai profesor luar biasa hukum adat di Sekolah Hakim Tinggi di Jakarta dan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sempat menjabat sebagai Menteri Kehakiman Pertama pada Kabinet Presidensial, periode 19 Agustus 1945 – 14 November 1945, pada masa Indonesia berbentuk serikat, Soepomo kembali menjabat sebagai Menteri Kehakiman, 20 Desember 1949 – 06 September 1950. Setelah itu dirinya didaulat menjadi Presiden Universitas Indonesia (Rektor UI) periode 1951-1954.

Soepomo wafat pada 12 September 1958 dalam usia 55 tahun di Jakarta, lalu dimakamkan di Solo dan mendapat gelar pahlawan nasional.

Prod Dr Soepomo adalah pencetus paham integralistik pada masa pembahasan sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Paham ini mengilhami terbentuknya tujuan berdirinya negara Republik Indonesia sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Menteri Kehakiman Pertama Indonesia itu merupakan pemikir utama bahkan arsitek UUD 1945 bersama Muhammad Yamin dan Ir Sukarno.