IFBC Banner

John Lennon dan Kemungkinan Terbunuh oleh Pemikirannya

Rabu, 08 Desember 2021 – 20:01 WIB

John Lennon (Foto: Istimewa)

John Lennon (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Tahun depan, Mark Chapman -- pembunuh John Lennon 41 tahun lalu -- menghadiri sidang pembebasan bersyarat ke-12. Sidang dijadwalkan pertengahan Agustus.

IFBC Banner


Kita tidak tahu apakah hakim akan mengabulkan permohonan pembebasan bersyaratnya, atau sebaliknya. Yang pasti, jika melihat pada tiga sidang pembebasan bersyarat sebelumnya, semua tergantung pada dua hal; interpretasi Chapman terhadap tindakan yang dilakukan, dan pernyataan Dewan Pembebasan Bersyarat.

Tahun 2016, pada sidang pembebasan bersyarat kesembilan, Chapman menulis kejahatannya -- membunuh mantan anggota The Beatles John Lennon -- sebagai direncanakan, egois, dan jahat. Kata 'direncanakan' itu yang membuat Dewan Pembebasan Bersyarat menolak permohonannya.

Tahun 2018, Chapman tidak menulis apa pun, tapi Dewan Pembebasan Bersyarat mengatakan bahwa pembunuh John Lennon berisiko rendah mengulangi perbuatannya. Chapman menunjukan ketidak-pedulian tanpa perasaan terhadap kesucian hidup manusia, rasa sakit, dan penderitaan orang lain.

Tahun 2020, Chapman tidak melakukan pembelaan. Dewan Pembebasan Bersyarat mengatakan membebasannya tidak sesuai kesejahateraan masyarakat. Dalam rekaman yang diperoleh ABC News, Champan disebut mencari kemuliaan dengan membunuh anggota The Beatles.

Jika permohonan pembebasan bersyarat tahun depan ditolak lagi, Chapman harus menunggu dua tahun lagi untuk mengajukan permohonan serupa. Mungkin dia akan bebas pada usia sangat tua, ketika aparat hukum menganggapnya tidak berbahaya lagi.

Kantor berita AFP menulis; "Anda harus kembali mengingat kematian John F Kennedy dan Dr Martin Luther King di tahun 1960-an untuk menemukan reaksi yang sama seperti kematian selebriti seperti Lennon."

Menurut saya tidak, reaksi pembunuhan John F Kennedy dan Martin Luther King Jr lebih bersifat nasional, ya hanya di AS. Reaksi pembunuhan John Lennon bersifat global.

Tidak ada yang meratapi pembunuhan John F Kennedy dan Martin Luther King Jr di luar AS. Namun, penggemar The Beatles di seluruh dunia menangis saat mendengar Lennon terbunuh.

Di Moskwa -- dulu ibu kota Uni Soviet, kini ibu kota Rusia. Di kota ini, penjualan album The Beatles dilarang, yang membuat pebisnis pasar gelap menangguk banyak laba.

Penghormatan di Moskwa berlangung berhari-hari, yang membuat polisi bertindak. Tak jauh dari sebuah universitas di Moskwa, polisi membubarkan kerumunan ratusan pemuda yang membawa gambar John Lennon.

Di Praha, dulu ibu kota Cekoslovakia kini ibu kota Republik Cek, aparat keamanan menindak keras setiap kerumunan untuk menghormati Lennon.

Moskwa dan Praha saat itu adalah kota anti-Barat. Aksi massa, dalam bentuk apa pun, dilarang keras. Tapi penggemar John Lennon berani keluar hanya untuk meratapi kematian sang idola.

Bagi publik AS, John Lennon dan The Beatles disukai bukan sekedar lagu-lagunya, tapi juga kontribusi keduanya pada satu hal; menghapus kesedihan publik Paman Sam atas pembunuhan John F Kennedy.

Saat Kennedy terbunuh, pada 23 November 1963, Eropa dilanda histeria The Beatles. Saat itu, The Beatles sedang menggelar tur ke sejumlah negara Eropa, dan ratusan orang antre di toko kaset sekujur Eropa untuk mendapatkan album baru The Beatles.

Brian Epstein, manajer The Beatles, mengatakan kepada CBS Morning bahwa The Beatles saat itu tak kenal John F Kennedy. Publik AS juga tidak kenal The Beatles.

Pada 7 Februari 1964, belum satu tahun sejak kematian Kennedy dan AS masih berselimut duka, The Beatles mendarat di Bandara John F Kennedy New York. Bandara itu sebelumnya bernama Idlewid atau Bandara Internasional New York.

Sebelum pesawat yang membawa The Beatles mendarat, menurut Epstein, banyak orang meragukan band asal Inggris dengan gaya musik khas Inggris akan sukses di AS.

Yang terjadi adalah saat John Lennon menuruni tangga pesawat, publik AS yang menyemut di bandara berteriak histeris. The Beatles resmi menginvasi AS, dan menghapus duka kehilangan John F Kennedy.

Lennon, Anarkhisme, anti-Tuhan

John Lennon memang bikin jengkel banyak orang ketika tahun 1966 mengatakan The Beatles lebih besar dari Yesus Kristus. Setelah itu dia meluncurkan Imagine, lagu yang diplesetkan anggota kelompok doa -- tempat Chapman menjadi anggotanya -- Bayangkan jika John Lennon mati.' Terakhir, menurut pengakuan Chapman kepada wartawan yang mewawancarainya, lagu 'God' bikin jengkel banyak orang.

Imagine menggambarkan pandangan Lennon tentang anarkhisme. Saya tidak tahu apakah dia terpengaruh pikiran Mikhail Bakunin atau Noam Chomsky. Atau, terpengaruh pemikir anarko lain.

Dalam 'God', Lennon menegaskan pemikirannya tentang Tuhan. Ia menjadi atheis. Perhatikan lirik dalam 'God'


God is a concept,
By which we measure
Our pain.
I'll say it again.
God is a concept,
By which we measure
Our pain.
I don't believe in magic
I don't believe in I-Ching
I don't believe in Bible
I don't believe in Tarot
I don't believe in Hitler
I don't believe in Jesus
I don't believe in Kennedy
I don't believe in Buddha
I don't believe in Mantra
I don't believe in Gita
I don't believe in Yoga
I don't believe in Kings
I don't believe in Elvis
I don't believe in Zimmerman
I don't believe in Beatles
I just believe in me


Dua frasa terakhir sangat menarik. Lennon tidak percaya The Beatles. Kalimat ini seolah menjadi pembenar pernyataan Paul McCartney bahwa penyebab perpecahan The Beatles adalah Lennon.

Frasa berikutnya, I just believe in me, mungkin harus dirunut pada latar pemikiran yang berkembang saat itu. Lagu ditulis tahun 1970-an, ketika AS -- bahkan di banyak belahan dunia -- Anton Szandor LaVey, pendiri Gereja Setan dan Satanisme, sedang menjadi selebriti.

Satanisme LaVey mengacu pada penuhanan diri, bukan yang lain. Ini yang membedakan LaVey pada Satanisme lain, terutama pengikut setan dengan ritual memaki Tuhan.

Memang tidak ada bukti Lennon membaca karya-karya LaVey, atau menjadi bagian Gereja Setan. Tidak ada kabar Lennon dan LaVey menjalin kontak atau apa pun.

Namun, LaVey dan buku-bukunya relatif populer saat itu. Pemikirannya mempengaruhi banyak orang. Lennon pasti bukan satu-satunya yang terpengaruh, mengembangkan pemikiran sendiri, dan menuliskannya dalam lagu.

Lennon mungkin terbunuh oleh pemikirannya, tapi dia tidak seharusnya mati. Sebagai pengelana pikiran, Lennon belum selesai. Lennon baru setengah jalan. Bukan tidak mungkin di akhir perjalanannya, dia kembali kepada Tuhan.

Mark David Chapman, seperti semua orang fundamentalis, seolah merasa berhak melenyapkan orang yang menyimpang. Lennon adalah korbannya.