IFBC Banner

104 Orang Tewas dalam Tragedi Pesawat SilkAir yang Jatuh di Sungai Musi Palembang

Minggu, 19 Desember 2021 – 21:01 WIB

Pesawat SilkAir (Foto: Istimewa)

Pesawat SilkAir (Foto: Istimewa)

PALEMBANG, REQnews - SilkAir Penerbangan 185 merupakan layanan penerbangan komersial rutin maskapai penerbangan SilkAir dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, Indonesia ke Bandara Changi, Singapura.

Namun, pada 19 Desember 1997 sekitar pukul 16:13 WIB, pesawat Boeing 737-300 yang melayani rute ini mengalami kecelakaan jatuh di atas Sungai Musi, Palembang, Sumatra Selatan.

Seluruh 104 orang yang ada di dalamnya yaitu 97 penumpang dan 7 awak kabin tewas, termasuk pilot Tsu Way Ming dari Singapura dan kopilot Duncan Ward dari Selandia Baru. Termasuk model dan penulis Bonny Hicks.

Investigasi kecelakaan ini dilakukan oleh Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Indonesia bersama dengan tim ahli dari NTSB Amerika, Singapura, dan Australia.

Kemudian pada 14 Desember 2000, KNKT mengeluarkan laporan yang menyatakan bahwa penyebab kecelakaan tidak dapat diketahui (undetermined).

Tetapi NTSB memiliki pendapat yang berbeda, dan menyebut bahwa kecelakaan ini disebabkan oleh tindakan Kapten Tsu yang sengaja menjatuhkan pesawatnya ke laut (bunuh diri).

Dikutip berdasarkan beberapa sumber, kemungkinan penyebab Kapten Tsu melakukan tindakan bunuh diri tersebut diduga karena masalah keuangan keluarga.

Ia dilaporkan mengalami kerugian dalam investasi keuangan, dan hutang tagihan kartu kreditnya yang lebih besar dari kemampuannya membayar. Terutama diakibatkan dari pengeluaran keluarganya yang lebih besar dari gajinya sebagai pilot.

Kemudian, Kapten Tsu membeli polis asuransi beberapa hari sebelum kejadian dan pada hari kecelakaan, jaminan perlindungan dari polisnya mulai berlaku.

Sehingga ia melakukan tindakan dengan menjatuhkan pesawat tersebut untuk mendapatkan uang santunan asuransi sebagai pengganti kerugian investasinya sebelumnya.

Dirinya juga beberapa kali mendapat teguran disiplin dari SilkAir, termasuk satu tindakan yang berkaitan dengan memanipulasi sekring dari perekam suara kokpit (CVR).

Laporan lain mengatakan ia juga berkonflik dengan Kopilot Ward dan beberapa rekannya yang meragukan kemampuannya memimpin sebagai Kapten Pilot.

Kapten Tsu merupakan mantan pilot dan instruktur A-4 Skyhawk Angkatan Udara Singapura. Ia memiliki pengalaman dengan pesawat tersebut selama 20 tahun.

Selama kariernya, ia pernah mengalami musibah dengan kehilangan 4 teman satu skuadronnya ketika latihan terbang rutin, setahun sebelum kecelakaan.

Dampak psikologis dari musibah ini diduga mengubah kepribadian Tsu yang berujung pada kecelakaan pesawat SilkAir tersebut.