Di Pondok Berburu di Hutan Terpencil, Mereka Meruntuhkan Imperium Uni Soviet

Minggu, 26 Desember 2021 – 17:32 WIB

Tiga penghancur Uni Soviet: Presiden Ukraina Leonid Kravchuk (kiri), Presiden Belarusia Stanislav Shushkevic (tengah), dan Presiden Rusia Boris Yeltsin (kanan) usai menyatakan Uni Soviet bukan lagi realitas geopolitik dan hukum internasional. Foto: theepo

Tiga penghancur Uni Soviet: Presiden Ukraina Leonid Kravchuk (kiri), Presiden Belarusia Stanislav Shushkevic (tengah), dan Presiden Rusia Boris Yeltsin (kanan) usai menyatakan Uni Soviet bukan lagi realitas geopolitik dan hukum internasional. Foto: theepo

Moskwa, REQNews.com -- Hari itu, 8 Desember 1991, di sebuah pondok berburu terpencil di Viskuli, di hutan Belavezha, Belarusia, dekat perbatasan Polandia, tiga pemimpin republik Uni Soviet mengawali kehancuran sebuah imperium.

Ketiganya adalah Presiden Rusia Boris Yeltsin, Presiden Ukraina Leonid Kravchuk dan Presiden Belarusia Stanislav Stanislavovich Shushkyevich. Mereka dipersatukan satu hal, yaitu naluri berkuasa.

Di pondok itu ketiganya menyatakan; "Uni Soviet tidak ada lagi sebagai subyek hukum internasional dan realitas geopolitik." Selanjutnya, ketiganya menciptakan Persemakmuran Negara-negara Merdeka (CIS) -- aliansi longgar republik-republik eks Uni Soviet.

Ketiganya meninggalkan pondok berburu itu dengan senyum lebar. Boris Yeltsin mungkin segera membayangkan dirinya berada di Kremlin -- sesuatu yang diimpikan sejak lama. Leonid Kravchuk menjadi pahlawan yang melepaskan Ukraina. Begitu pula Stanislav Stanislavovich Shushkyevich.

Pengumuman CIS menimbulkan gelombang kejut ke sekujur republik Uni Soviet. Delapan republik Soviet menyatakan bergabung, yang membuat Gorbachev berada dalam dua pilihan sulit; mundur atau mencoba mencegah kehancuran Uni Soviet dengan senjata dan darah.

Dalam memoir-nya, Gorbachev menulis; “Jika saya memutuskan untuk mengandalkan beberapa bagian dari struktur bersenjata, itu pasti akan memicu konflik politik akut yang penuh dengan darah dan konsekuensi negatif yang luas. Saya tidak bisa melakukan itu. Saya akan berhenti menjadi diri saya sendiri."

Gorbachev, menurut analis politik, dihadapkan pada loyalitas militer dan penegak hukum yang terpecah. Empat juta personel militer Uni Soviet berasal dari semua republik. Mereka berpaling kesetiaan dari Uni Soviet ke republik asal mereka.


Setelah Uni Soviet Runtuh

Pavel Palazhchenko, mantan ajudan Mikhail Gorbachev, mencatat satu hal yang tidak pernah dipikirkan pemimpin Ukraina, Rusia, dan Belarusia, saat ketiganya menghancurkan Uni Soviet. Yaitu, senjata nuklir.

"Mereka hanya fokus pada menghancurkan Uni Soviet, dan sama sekali tidak berpikir tentang senjata nuklir yang tersebar di banyak republik," kata Palazhchenko kepada Associated Press.

Akibatnya, butuh bertahun-tahun bagi diplomat AS untuk membujuk Ukraina, Belarusia, dan Kazakhstan, agar menyerahkan senjata nuklir warisan Uni Soviet ke Rusia.

Proses ini akhirnya selesai tahun 1996, setelah melewati perdebatan sengit. AS tahu negara-negara ini tidak memiliki kemampuan cukup untuk memelihara senjata nuklir.

Kehancuran Uni Soviet diikuti pula oleh bubarnya Pakta Warsawa -- aliansi militer negara-negara komunis Eropa Timur. Setelah itu Rusia tidak bisa berbuat apa-apa ketika NATO memperluas aliansinya.

Kini, Presiden Rusia Vladimir Putin berusaha mencegah semua itu.