Sosok Sri Sultan Hamengkubuwono II, Raja Kesultanan Yogyakarta yang Punya Julukan Sinuhun Sepuh

Senin, 03 Januari 2022 – 12:32 WIB

Lukisan Sri Sultan Hamengkubuwono II (Foto: Istimewa)

Lukisan Sri Sultan Hamengkubuwono II (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Sri Sultan Hamengkubuwana II merupakan raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah selama tiga periode, yaitu 1792-1810, 1811-1812, dan 1826-1828. Masa jabatannya yang kedua adalah masa jabatan paling singkat dalam sejarah Kesultanan Yogyakarta. 

 

Pada pemerintahan yang kedua dan ketiga Hamengkubuwana II dikenal dengan julukan Sinuhun Sepuh. Raja kelahiran Gunung Sindoro, 7 Maret 1750 itu memiliki nama asli Gusti Raden Mas Sundara. Ia merupakan putra kelima Sultan Hamengkubuwana I dari permaisuri Gusti Kangjeng Ratu Hageng/GKR Kadipaten.

 

Hamengkubuwono II dilahirkan ketika ayahnya Pangeran Mangkubumi melakukan pemberontakan terhadap Mataram dan VOC. Ketika kedaulatan Hamengkubuwana I mendapat pengakuan dalam perjanjian Giyanti tahun 1755, Mas Sundara juga ikut diakui sebagai adipati anom.

 

Pada tahun 1774, terjadi kegelisahan di kalangan Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta akibat mitos akhir abad, bahwa akan ada sebuah kerajaan yang runtuh. 

 

Dalam kesempatan itu, Mas Sundara menulis kitab Suryaraja yang berisi ramalan bahwa mitos akhir abad akan gugur karena Surakarta dan Yogyakarta akan bersatu di bawah pemerintahannya. Naskah tersebut sampai saat ini dikeramatkan sebagai salah satu pusaka Keraton Yogyakarta, dengan nama Kangjeng Kyai Suryaraja.

 

Sultan Hamengkubuwana II yang sudah tua itu dipanggil sebagai Sinuhun Sepuh. Ia meninggal pada tanggal 3 Januari 1828 setelah menderita sakit radang tenggorokan dan akibat usia tua. Pemerintahan kembali dipegang oleh cicitnya, yaitu Hamengkubuwana V. 

 

Berbeda dari penguasa-penguasa Kesultanan Yogyakarta lainnya, jenazah Hamengkubuwana II tidak dimakamkan di Imogiri, melainkan di kompleks pemakaman Kotagede. Itu dilakukan dengan pertimbangan keamanan, karena jalur perjalanan ke Imogiri kala itu dikuasai oleh kubu Pangeran Diponegoro.