Sosok Martha Christina Tiahahu, Pejuang Kemerdekaan Indonesia Asal Pulau Nusalaut Maluku

Selasa, 04 Januari 2022 – 11:03 WIB

Lukisan Martha Christina Tiahahu (Foto: Istimewa)

Lukisan Martha Christina Tiahahu (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Martha Christina Tiahahu merupakan seorang perempuan dari Desa Abubu di Pulau Nusalaut, Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Perempuan kelahiran 4 Januari 1800 itu adalah pejuang kemerdekaan Indonesia, yang turut mengangkat senjata melawan penjajah Belanda berumur 17 tahun.

Ayahnya adalah Kapitan Paulus Tiahahu, seorang kapitan dari negeri Abubu yang juga pembantu Thomas Matulessy dalam Perang Pattimura tahun 1817 melawan Belanda. Ia tercatat sebagai seorang pejuang kemerdekaan yang berani terjun dalam medan pertempuran melawan tentara kolonial Belanda dalam Perang Pattimura tahun 1817.

Bahkan keberanian dan konsekuennya sangat terkenal dikalangan pejuang, masyarakat luas hingga para musuh. Sejak awal perjuangan, Martha yang memiliki sifat pantang menyerah, selalu mengambil peran atau bagian.

Dengan rambutnya yang panjang terurai ke belakang serta berikat kepala sehelai kain berang (merah) ia tetap mendampingi ayahnya dalam setiap pertempuran baik di Pulau Nusalaut maupun di Pulau Saparua, bahkan dirinya selalu hadir siang-malam dan ikut dalam pembuatan kubu-kubu pertahanan.

Tak hanya mengangkat senjata, namun ia memberi semangat kepada kaum wanita di negeri-negeri agar ikut membantu kaum pria di setiap medan pertempuran sehingga Belanda kewalahan menghadapi kaum wanita yang ikut berjuang.

Dalam pertempuran yang sengit di Desa Ouw – Ullath jasirah tenggara Pulau Saparua yang tampak betapa hebat srikandi ini menggempur musuh bersama para pejuang rakyat. Namun akhirnya karena tidak seimbang dalam persenjataan, tipu daya musuh dan pengkhianatan, para tokoh pejuang dapat ditangkap dan menjalani hukuman.

Ada yang harus mati digantung dan ada yang dibuang ke Pulau Jawa. Ayahnya, yaitu Kapitan Paulus Tiahahu divonis hukum mati tembak. Martha pun harus berjuang untuk melepaskan ayahnya dari hukuman mati, namun dirinya tak berdaya dan meneruskan bergerilyanya di hutan, hingga akhirnya tertangkap dan hendak diasingkan ke Pulau Jawa.

Saat itulah dirinya jatuh sakit, tetapi ia menolak diobati oleh orang Belanda. Di Kapal Perang Eversten, Martha menemui ajalnya dan dengan penghormatan militer jasadnya diluncurkan di Laut Banda tepatnya di antara Pulau Buru dan Pulau Manipa pada tanggal 2 Januari 1818.

Untuk menghargai jasa dan pengorbanannya, Martha Christina Tiahahu dikukuhkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia. Yaitu berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 012/TK/ Tahun 1969 yang dikeluarkan pada tanggal 20 Mei 1969, Martha Christina Tiahahu secara resmi dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh pemerintah Indonesia.

Selain itu, sosoknya juga diabadikan dalam prangko yang terbit pada tahun 1999. Pemerintah juga menetapkan tanggal 2 Januari sebagai Hari Martha Christina Tiahahu. Setiap tanggal tersebut, rakyat memperingati perjuangan dan pengorbanannya dengan melakukan tabur bunga di Laut Banda.

Lebih lanjut, ternyata namanya juga diabadikan pada sebuah kapal perang Indonesia yang dibeli dari Inggris tahun 1979 lalu, yang bernama KRI Martha Christina Tiahahu. Selain itu, sebuah monumen setinggi 7 meter juga dibangun di tanah kelahiran Martha sebagai simbol perjuangan dan mengenang jasa-jasanya.

Kemudian, di atas tugu tersebut dibangun patung yang menonjolkan ciri khasnya, yaitu memegang tombak, rambut panjang yang terurai, dan mengenakan ikat kepala. Monumen tersebut diresmikan pada tanggal 2 Januari tahun 1977 oleh Menteri Sosial Republik Indonesia waktu itu, yaitu H.M.S. Mintaredja.

Di monumen tersebut tertulis “Martha Christina Tijahahu, Mutiara Nusa Laut, Pahlawan Nasional RI, Tak Lelah Berjuang Mengusir Penjajah Belanda dari Maluku, Gugur pada Tanggal 2 Januari 1818.”