IFBC Banner

Profil Dokter Abu Hanifah, Seorang Seniman yang juga Mantan Mendikbud Era Kabinet RIS

Selasa, 04 Januari 2022 – 11:35 WIB

dr Abu Hanifah Dt Marajo Ameh (Foto: Istimewa)

dr Abu Hanifah Dt Marajo Ameh (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Sosok dr Abu Hanifah Dt Marajo Ameh atau yang lebih dikenal dengan Abu Hanifah merupakan seorang pejuang kemerdekaan, ahli kesehatan, seniman, dan politisi Indonesia.

IFBC Banner


Abu Hanifah pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada tahun 1949 hingga 1950 dalam Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS). Selain itu, dirinya juga pernah ditugaskan sebagai Duta Besar RI untuk Brasil.

Pria kelahiran 6 Januari 1906 itu juga dikenal sebagai seorang seniman, ia menulis naskah lakon atau drama dan novel serta dikenal sebagai pelukis. Dalam naskah lakon atau dramanya, Abu Hanifah memakai nama El Hakim. Karya tulis yang pernah ditulisnya seperti, Dewi Rani (1943), Dokter Rimbu (1955), Rokaya dan Pelaut.

Bahkan dirinya turut meramaikan dunia teater pada masa-masa pendudukan Jepang bersama adik kandungnya, Usmar Ismail serta temannya Armijn Pane. Beberapa karya sastranya pernah dipentaskan oleh perkumpulan drama Maya, seperti Taufan di Atas Asia pada tahun 1943.

Saat itu, Abu Hanifah menamatkan pendidikannya di Indische Arts tahun 1932 dan sekolah tabib tinggi tahun 1940. Kemudian pada tahun 1962, ia memperoleh gelar doktor honoris causa dari Akademi Belle Artes, Brasil.

Selain itu, seniman tersebut juga membentuk himpunan sandiwara penggemar Maya yang merupakan satu-satunya himpunan sandiwara pada masa penjajahan Jepang yang secara tegas merumuskan tujuan aktivitasnya yakni tegaknya kejayaan budaya Indonesia.

Ia yang berpengalaman dalam mengelola media massa cetak, pernah menjadi redaktur majalah Jong Sumatra, Pemuda Indonesia, dan Indonesia Raja.

Sambil berpraktik sebagai dokter, Abu Hanifah juga giat dikancah politik praktis dalam kerangka perjuangan kemerdekaan Indonesia. Seperti menjadi redaktur berbagai majalah perhimpunan pemuda, seperti Jong Sumatranen Bond periode 1923-1926 serta Indonesia Moeda pada tahun 1931.

Abu Hanifah juga merupakan salah seorang tokoh dalam peristiwa Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Pada saat Jepang masuk menduduki Hindia Belanda (Indonesia), ia aktif sebagai anggota Barisan Pemuda Asia Raya.

Semua kegiatan politik serta perjuangan kemerdekaannnya, telah menempatkan Abu Hanifah sebagai salah seorang tokoh perintis kemerdekaan Indonesia. Namun, ia meninggal dunia pada 4 Januari 1980 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta, karena penyakit imbuli (kelumpuhan pada masa tua) yang dideritanya.

Selanjutnya pria kelahiran Padang Panjang, Sumatra Barat, Hindia Belanda itu kemudian dikebumikan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta, ditempat yang sama dengan adik kandungnya, Usmar Ismail.