Oesin, Kusni dan Henky: Trio Terpidana Mati Pertama Pasca Kemerdekaan Indonesia

Rabu, 19 Januari 2022 – 00:05 WIB

Potret Kusni Kasdut saat ditangkap polisi

Potret Kusni Kasdut saat ditangkap polisi

JAKARTA, REQnews - Sederet kontroversi hukuman mati di Indonesia, pada mulanya merupakan warisan pemerintahan Hindia Belanda sejak 1621 ketika Joan Maetsuycker menjabat sebagai Gubernur Jenderal, dengan undang-undang bernama Ordonnanties.

Hukuman mati ini dibuat semakin kejam kala Herman Willems Daendels menjabat sebagai Gubernur Jenderal di awal abad ke-18. Tak tanggung-tanggung, pribumi yang divonis mati, dieksekusi dengan cara dibakar hidup-hidup atau dibunuh menggunakan keris.

Di masa kepemimpinannya yang singkat, Daendels sebenarnya menciptakan hukuman mati dengan target utama para koruptor yang merugikan VOC.

Tahun demi tahun, hukuman mati itu tak pernah dihapus. Bahkan, sampai Indonesia merdeka pada Agustus 1945, hukuman mati menjadi salah satu legasi besar dari produk hukum ala pemerintahan kolonial.

Padahal, Belanda sudah sejak 1870, menghapus hukuman mati. Namun, hal itu masih diterapkan di negara-negara jajahan Belanda, termasuk Indonesia.

Hal yang menarik dari perjalanan hukuman mati ini, adalah orang-orang yang pertama kali divonis di Indonesia pasca kemerdekaan.

Dalam catatan REQnews.com yang dirangkum dari berbagai sumber, setidaknya ada tiga orang pertama yang divonis dan dieksekusi mati setelah kemerdekaan. Mereka adalah Oesin Bestari pada 1979 dan Kusni Kasdud juga Henky Tupanwael pada 1980.

 

Berikut, kisah singkat eksekusi mati terhadap ketiga sosok tersebut.

Oesein Bestari (1979)

Surabaya dan Mojokerto pernah menjadi kota berdarah, setelah serangkaian pembunuhan yang dilakukan Oesein Bestari terhadap enam rekan bisnisnya. 

Sebelumnya, Oesin bukanlah orang terkenal atau pejabat, apalagi politikus. Ia hanyalah pedagang dan tukang jaga kambing, sekaligus pembunuh berdarah dingin.

Tinggal di Desa Jagalan, Mojokerto, Oesin menghabisi nyawa rekan bisnisnya secara terpisah berurutan pada 1964. Pembunuhan pertama ia lakukan di kampung tempatnya tinggal, lalu lima lainnya dibantai secara terencana di sebuah rumah yang disewanya di Desa Seduri, pinggir jalan antara Mojokerto dan Surabaya.

Aksi Oesin terbongkar, karena salah satu korban berteriak minta tolong sebelum nyawanya dicabut paksa oleh sang penjagal. Tetangga yang berada di dekat rumah pembantaian itu, mendengar teriakan tersebut.

Oesin lalu menjadi buronan polisi selama beberapa waktu, dan akhirnya ditangkap, lalu disidangkan serta divonis mati. Ia dieksekusi oleh regu tembak pada 14 September 1979 di sebuah tepi pantai di daerah Kenjeran, Surabaya.

Kusni Kasdud (1980)

Penjahat legendaris Waluyo alias Kusni Kasdut juga dieksekusi mati pada 1980, setelah serangkaian kejahatan dan pembunuhan bengis yang dilakukannya.

Padahal, Kusni dikenal sebagai seorang pejuang yang melawan penjajah Belanda pada masa-masa kemerdekaan tahun 1945. Setelah itu, hidupnya berubah drastis, dari seorang pecinta damai menjadi penjahat kejam.

Pada 1960, Kusni menembak orang keturunan Arab. Ia melambungkan namanya sebagai penjahat kelas kakap, setelah mencuri benda seni kala merampok Museum Nasional atau Museum Gajah pada 31 Mei 1961.

Akhirnya, Kusni ditangkap di Semarang saat menjual belasan permata yang dicurinya. Ia diseret ke pengadilan, dan divonis mati. 

Sempat mengajukan grasi kepada presiden, namun permintaan Kusni itu ditolak mentah-mentah. Sang penjahat yang dikenal dengan julukan 'Robinhood Indonesia' itu dieksekusi pada 16 Februari 1980 di Gresik, Jawa Timur.

 

 

Henky Tupanwael

Tahun 1980, selain Kusni Kasdut, ada juga Henky Tupanwael yang dieksekusi mati akibat serangkaian kejahatan super kejam yang dilakukannya.

Henky yang dikenal sebagai spesialis perampok bank, sudah berkali-kali keluar masuk penjara karena kabur. Pada usia 17 tahun, ia masuk penjara anak-anak karena mencuri senjata, dan juga menembak seorang polisi militer.

Kemudian, Henky dijebloskan ke lapas Sukamiskin Bandung. Tahun 1957, ia melakukan perampasan dan dijebloskan ke penjara dengan vonis tiga tahun. Lalu, setelah keluar, ia merampok Bank Ekonomi Nasional di Bandung.

Akibat perbuatannya, Henky dipenjara di Banceui, dan kabur pada 1963. Ia ditangkap lagi karena peristiwa penggarongan di rumah hakim di Bandung. Ulahnya yang tiada henti itu mengantarkannya ke Nusakambangan. Tapi, Henky kabur lagi, kali ini ia beraksi di Jakarta dengan merampok Bank Nusantara, dan menembak mati dua orang.

Kembali Henky ditangkap, kali ini ia tak bisa kabur. Vonis mati dijatuhkan hakim padanya. Ia dieksekusi pada 1980 oleh regu tembak.