IFBC Banner

Presiden Joe Biden Buka Rahasia Tentara Hantu dan Berikan Medali Emas Kongres

Rabu, 02 Februari 2022 – 22:55 WIB

Foto: taskandpurpose.com

Foto: taskandpurpose.com

Washington, REQNews.com -- Presiden AS Joe Biden, Selasa 1 Januari, menandatangani RUU yang memberikan Medali Emas Kongres kepada unit sangat rahasia Angkatan Darat AS yang mengelabui Nazi Jerman selama Perang Dunia II.

IFBC Banner


Dikenal sebagai 'Tentara Hantu', Pasukan Khusus Markas Besar ke-23 AD AS dan Kompi Layanan Sinyal ke-3133 menggunakan tank, artileri, dan pesawat terbang palsu, termasuk menciptakan 'markas palsu' yang dikelola jenderal palsu untuk mengelabui Nazi Jerman.

Tujuannya, agar Nazi Jerman menjauh, yang membuat AS dan sekutu leluasa bergerak melakukan serangan dan menjepit lawan.

Tentara Hantu terdiri dari insinyur, arsitek, dan mahasiswa seni. Mereka bukan bertempur, tapi menciptakan tank mainan -- terbuat dari balon plastik yang ditiup -- markas besar dengan parit pertahanan, serta meriam-meriam plastik, yang jika dilihat dari kejauhan tidak beda dengan meriam sungguhan.

Menurut Museum Nasional Perang Dunia II, di antara mereka yang direkrut adalah perancang busana Bill Blass, pelukis Ellsworth Kelly, dan fotografer Art Kane.

Pasukan ke-23, yang menjadi inti Tentara Hantu, terdiri dari 1.100 orang tapi mampu mengelabui Nazi Jerman seolah mereka berkekuatan 30 ribu orang. Caranya, menjahit tambalan palsu di seragam, mengencat tanda palsu pada kendaraan, dan lainnya.

Selama Perang Dunia II, Tentara Hantu melakukan lebih 20 misi penipuan. Tak jarang, aksi tipuan dilakukan di garis depan, dengan risiko dideteksi lawan dan dihancurkan.

Selama Pertempuran Bulge yang terkenal, Tentara Hantu menggunakan lali-lintas radio palsu untuk menipu pasukan Jerman tentang upaya Angkatan Darat Ketiga pimpinan Jenderal George S Patton membebaskan pasukan sekutu yang mempertahankan Bastogne, kota di Belgia.

Di Italia pada April 1945, Kompi Layanan Sinyal ke 3133 menggunakan tipuan sonik untuk menggambarkan lokasi pasukan sekutu di garis pertahanan Jerman. Caranya, melibatkan suara ledakan bom yang direkam sebelumnya untuk memberi gerakan unit Angkatan Darat di malam hari.

Terakhir, Tentara Hantu menjalan misi Operasi Viersen pada Maret 1945. Kondisi saat itu, AD Kesembilan AS berusaha menyeberangi Sungai Rhine dan masuk ke Jerman. Pasukan Nazi Jerman bersiap menghabisi AS saat penyeberangan.

Tentara Hantu menyusun rencana bagaimana menarik perhatian pasukan Nazi Jerman yang fokus menghadang gerakan AD Kesembilan AS. Menggunakan jaringan radio buatan, soundrack pekerjaan konstruksi dan tembakan artileri, Tentara Hantu membuat seolah-olah ada dua divisi pasukan AS yang menyeberang dari arah lain.


Pahlawan Rahasia

Sekian puluh tahun setelah Perang Dunia II berakhir Tentara Hantu tetap menjadi hantu. Kerahasiaan mereka tetap dipertahankan, dengan setiap anggota tidak berbicara kepada siapa pun, dan harus rela menjadi 'pahlawan tak dikenal'.

Tahun 1996, menurut Proyek Warisan Tentara Hantu, sejarah Tentara Hantu yang didokumentasikan oleh mantan anggotan dideklasifikasi.

Senat meloloskan UU Bipartisan yang memberi pasukan ini Medali Emas Kongres dengan persetujuan bulat pada Desember 2021. DPR AS meloloskan RUU ini dengan pemungutan suara bulan lalu.

"Dengan tanda tangan presiden, keberanian Tentara Hantu akhirnya mendapat pengakuan publik yang layak mereka dapatkan," kata Senator Demokrat Ed Markey dari Massachussetts, sponsor utama RUU itu.

Annie Kuster, dari Partai Republik, mengatakan melalui taktik kreatif, inovatif, dan berani, Tentara Hatu menyelamatkan 30 ribu tentara AS dan sekutu selama Perang Dunia II.

Bernie Bluestein, veteran Tentara Hantu yang kini berusia 98 tahun, mengatakan; "Suatu kehormatan mendapat anugerah medali. Namun, saya tidak pernah mengharapkan ini. Saya menyesal sangat sedikit rekan saya yang masih hidup dan menikmati penghargaan ini."

Selain Bluestein, ada delapan anggota Tentara Hantu yang masih hidup. Mereka adalah; Bill Anderson (97), John Christman (97), George Dramas (97), Manny Frockt (97), Nick Leo (99), Mark Mallardi (98), Bill Nall (97), dan Seymour Nussenbaum (98).