IFBC Banner

Perang Ukraina-Rusia dan Konflik 300 Tahun Gereja Ortodoks

Selasa, 08 Maret 2022 – 13:35 WIB

Foto: kyivpost.com

Foto: kyivpost.com

Kyiv, REQNews.com -- Empat hari lalu, Patriark Bartholemew — pemegang otoritas tertinggi Gereja Kristen Ortodoks Yunani di Istanbul, Turki — menyampaikan sesuatu yang mengejutkan dalam wawancara dengan CNN Turk dan dikutip Daily Sabah.

“Patriarkat kami dan saya pribadi telah menjadi ‘target’ Rusia,” katanya. “Sebab, empat tahun lalu saya mengakui independensi Gereja Ortodoks Ukraina.”

Menurutnya, keputusan mengakui independensi Gereja Ortodoks Ukraina merupakan pukulan besar bagi otoritas spiritual Moskwa di dunia Ortodoks.

“Kini kami melihat betapa benar keputusan kami,” lanjut Patriark Bartholomew. “Kami ingin Gereja Ortodoks Rusia tidak menunjukan banyak permusuhan kepada kami, kepada saya, dan patriarki.

Pertikaian 300 Tahun

Di Gereja Ortodoks Obukhiv orang-orang berlutut dengan kepala tertunduk, nyanyian lembut mengalir, mengisi ruang, dan hening saat setiap jemaah berdoa untuk orang terkasih yang menghadapi tank-tank dan rudal Rusia.

Imam menyeru doa perdamaian selama kebaktian Minggu di gereja yang terletak 40 kilometer selatan Kyiv, ibu kota Ukraina. Namun itu tidak berhasil mengurangi penderitaan.

Gereja Ortodoks Obukhiv berafiliasi ke Moskwa, dengan Patriark Kirill sebagai otoritas tertinggi. Sejak invasi Rusia ke Ukraina, Gereja Obukhiv menjaga jarak dengan Mokswa, tapi tetap bersikap apolitis.

Menurut Daily Sabah, Gereja Ortodoks di Ukraina terpecah ke dalam tiga kelompok sejak 300 tahun; Gereja Ortodoks yang berafiliasi ke Moskwa, Gereja Ortodoks berafiliasi ke Istanbul atau Yunani Fener, dan para klergi yang ingin mendirikan Gereja Ortodoks Terpadu.

France24 menulis ada dua Gereja Ortodoks di Ukraina. Pertama, Gereja Ortodoks Ukraina Independen dan Gereja Ortodoks yang beroperasi di bawah Patriarkat Moskwa. Yang kedua memiliki sejarah sepanjang 300 tahun, lainnya relatif baru.

Sekian lama Gereja Ortodoks Ukraina Independen meminta pengakuan dari Moskwa dan Konstantinopel atau Istanbul, sampai akhirnya Patriark Bartholemew membuat keputusan berani empat tahun lalu.

Mereka Kecewa

Invasi Rusia ke Ukraina membuat Gereja Ortodoks di Ukraina yang berada di bawah kendali Patriarkat Moskwa kecewa. Seorang juru bicara Gereja Ortodoks di Ukraina yang dikendalikan Moskwa mengecam kebohongan Kermlin yang membenarkan invasi.

“Berbohong itu dosa dan kekuatan Rusia berbohong. Banyak yang percaya,” kata Pastor Nikolai Danilevich dalam wawancara dengan France24 dan Radio France Internatinale (RFI). “Pejabat Rusia mengatakan tidak akan ada perang, dan tidak merencanakan apa pun.”

Berbicara dari kantornya di Kyiv Pechersk Lavra, dikenal juga dengan Biara Gua Kyiv, Danilevich mengatakan; “Invasi ini adalah tindakan pengkhianatan yang merusak setiap bentuk kepercayaan.”

Di Gereja Ortodoks Obukhiv, khotbah Minggu cenderung moderat. Pastor Serguei Stolyartchouk membatasi pesannya pada generalisasi agama, menyeru doa perdamaian, dan berusaha tak memihak pada konflik.

Pertanyaan tentang otoritas formal Patriark Kirill dari Moskwa masih menjadi topik tabu. Pastor Serguei masih menghindar untuk mengomentari pernyataan Patriark Kirill.

Namun, seperti semua orang Ukraina, Pastor Serguei kecewa dengan invasi Rusia. Menurutnya, invasi diketahui ketika seorang putrinya berteriak ada ledakan. Pastor Serguei tinggal di dekat Bandara Boryspil di sebelah timur Kyiv.

“Ini negara kita. Ini tanah kita. Ini rakyat kita,” katanya. “Bagaimana kita bisa tak acuh.”

Nadejda, pensiunan dan jamaah Gereja Obukhiv, menyeka air mata sebelum perlahan-lahan berdiri usai berdoa. “Invasi ini mengerikan. Kami harus melindungi negara dan berusaha mengakhiri perang,” katanya.

Volodymyr, jamaah lainnya, setiap orang Ukraina harus berjuang mempertahankan negara dari penjajah Rusia. Ia adalah mantan karyawan Antonov, perusahaan pembuat pesawat terbang, dan mengenal orang-orang yang terlibat dalam pertempuran.

“Saya berdinas di Angkatan Darat Soviet di Moskwa tahun 1980-an, dan saya tidak pernah membayangkan perang ini,” kata pria usia 50 tahun itu. “Saya yakin kami akan menang.”