IFBC Banner

Karena RA Kartini, Kitab Tafsir Fenomenal Faidh Al-Rahman Terlahir

Kamis, 21 April 2022 – 16:40 WIB

Pahlawan Nasional RA Kartini

Pahlawan Nasional RA Kartini

JAKARTA, REQnews - Kisah-kisah inspiratif dari kehidupan sang pahlawan RA Kartini sebagai sosok perempuan besar Tanah Air seakan tak pernah habis untuk diulas.

Sebagai perempuan berdarah biru dari Jepara, yang dididik dengan gaya Belanda di Europeesche Lagere School, tak membuat Kartini melupakan jati dirinya, bukan hanya sebagai orang Jawa, namun lebih daripada itu, sebagai sosok seorang penganut agama Islam.

Kartini adalah sebab utama terlahirnya sebuah kitab tafsir yang fenomenal, Faidh Al-Rahman, yang ditulis oleh seorang kiai tersohor pada masa-masa pra kemerdekaan, yakni KH Sholeh Darat.

Rasa Penasaran

Kartini muda yang penuh rasa penasaran, bertemu dengan seorang kiai besar yang sama-sama dari Jepara, KH Sholeh Darat, yang hari ini dikenal sebagai gurunya para guru dan ulama Indonesia.

Dalam pertemuan itu, Kartini membawa rasa penasarannya akan QS Al-Fatihah. Ia bertanya kepada Kiai Sholeh tentang makna yang terkandung dalam surah yang menjadi inti Al-Qur'an tersebut.

Kemudian, Kartini juga mengeluhkan sulitnya belajar dan memahami Al-Qur'an, karena kitab suci tersebut, kala itu dianggap tabu bila diterjemahkan ke dalam bahasa lain, termasuk bahasa Jawa.

“Kiai lain tidak berani berbuat seperti itu. Sebab, kata mereka, Al-Qur'an tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa lain,” kata Kartini kepada Kiai Sholeh.

Kepada Kiai Sholeh di Pendopo Demak, Kartini memperoleh sejumlah jawaban yang tak pernah ia dapatkan, dari ulama manapun yang pernah ditemuinya. Istri dari Bupati Rembang Raden Adipati Joyodiningrat ini tak hentinya mengucapkan terima kasih kepada sang kiai.

KH Sholeh Darat Tersentak oleh Ucapan Kartini

Bagian terpenting dari dialog antara kedua sosok ini adalah, ketika Kartini melontarkan pernyataan bahwa Al-Qur'an sebagai kitab suci yang begitu indah, tak bisa dinikmati keindahannya oleh masyarakat awam karena tak ada yang mengerti maknanya.

Bagi Kartini, masalah utamanya adalah makna sulit dipahami, karena bahasa yang berbeda. Ia butuh Al-Qur'an yang mampu dibaca dengan jelas dan dipahami dalam bahasa Jawa, bahasa sehari-hari dalam kehidupannya.

Selamat memperingati Hari Kartini 21 April 2022. Ibu kita Kartini, putri sejati. Putri Indonesia harum namanya.

Mendengar keluh kesah itu, KH Sholeh Darat tersentak. Ia pulang dengan tetap terbayang-bayang apa yang sudah diucapkan oleh Kartini.

Kiai Sholeh kemudian bertekad untuk menerjemahkan Al-Qur'an ke dalam bahasa Jawa aksara Pegon. Dari itulah, lahir sebuah kitab tafsir bernama Faidh Al-Rahman atau Faidul Rahman.

Kitab itu ditulis oleh Kiai Sholeh, namun ia menggunakan nama Abu Ibrahim, untuk mengenang namanya yang sudah wafat terlebih dahulu, yang bernama Ibrahim.

Faidh Al-Rahman adalah kitab terjemahan Al'Qur'an pertama dalam bahasa Jawa, yang isinya meliputi Surah Al-Fatihah hingga Surah Ibrahim. 

Sayangnya, sebelum sempat menuntaskan 30 juz dalam Al-Qur'an, Kiai Sholeh wafat di Semarang, 18 Desember 1903. Kartini berduka atas kepergian sosok yang mengenalkannya begitu dekat dengan Islam.

Karya Sholeh Darat itulah yang mengubah cara pandang dan pemikiran ala Eropa Kartini, menjadi sarat dengan nuansa Keislaman.

Disebutkan dalam banyak sumber, kumpulan surat Kartini yang dirangkum Armiin Pane dengan judul 'Habis Gelap Terbitlah Terang', terinspirasi dari penggalan Surah Al-Baqarah ayat 257, yang artinya: "Orang-orang beriman dibimbing Allah dari kegelapan menuju cahaya."