Marthe Gautier dan Penindasan Kontribusi Perempuan dalam Sains

Rabu, 04 Mei 2022 – 23:29 WIB

Foto: newsinfrance.com

Foto: newsinfrance.com

Paris, REQNews.com -- Pekan lalu, tepatnya Sabtu 30 April, dunia sains kedokteran berduka. Dr Marthe Gautier, penemu kromosom supernumerary yang bertanggung jawab terhadap Down Syndrome, meninggal dunia pada usia 96 tahun.

Pers dan media Barat relatif tidak sibuk dengan kabar kematian ini. Tidak ada ucapan belasungkawa dari pemimpin dunia, bahkan dari kalangan kedokteran.

Marthe Gautier seolah terlupa. Memang terlupa. Ia tidak tercatat sebagai orang pertama penemu kromosom supernumerary, dan mendapat publikasi di seluruh dunia sebagai pemenang Nobel Kedokteran.

Kaum feminis mungkin mengatakan Marthe Gautier adalah korban dunia laki-laki. Ia seolah tidak berhak atas sesuatu yang menjadi miliknya, yaitu penemuan.

Namun, anggapan itu bisa terbantah karena dunia punya Marie Curie, wanita penemu asal Prancis yang meraih Nobel Fisika dan Kimia. Terlebih, belakangan diketahui Gautier adalah korban tindakan naif dirinya.

Tahun 1958 Gautier berteori orang Down Syndrome, atau sindoma down, memiliki kromosok ekstra. Ia membuktikannya dengan mengidentifikasi kromosom dengan mikroskop berdaya rendah.

Kepada jurnal Science tahun 2014, Gautier mengatakan dirinya meminjamkan slide yang membuktikan temuannya kepada Jerome Lejeune.

Enam bulan kemudian Gautier terkejut membaca makalah penelitian penemuan Kromosom Ekstra 21 yang diterbitkan jurnal ilmiah, dengan nama Lejeune ditulis pertama dan Gautier -- penulisaannya salah eja -- kedua.

Tahun 1994 komite etik lembaga penelitian medis INSERM Prancis mengatakan Lejeune tidak mungkin memainkan peran dominan dalam penemuan itu. Artinya, Gautier adalah penemu sebenarnya.

Tapi, apakah pengakuan INSERM membuat Gautier populer? Tidak. Ia tetap menjadi ilmuwan terlupa.

Gautier bukan satu-satunya perempuan ilmuwan terabaikan sejarah. Sebelum dia, bahkan setelah dia, sejumlah perempuan ilmuwan mengalami nasib sama.


Rosalind Franklin

Tahun 1952, kimiawan eksperimental Inggris Rosalind Franklin menemukan gambar sinar X yang terkenal dengan sebutan Foto 51. Temuannya menjadi penting karena menjadi kunci penemuan heliks ganda DNA.

Jauh di luar laboratoriumnya, dua ilmuwan lain; Francis William Crick dan James Watson sedang membuktikan teori yang sama. Keduanya menerbitkan penelitian mereka sebelum Franklin mempublikasikan temuannya.

Akibatnya, orang berpikir Franklin hanya mendukung penelitian Crick dan Watson. Tahun 1962, empat tahun setelah Franklin meninggal pada usia 37 tahun, Crick dan Watson meraih Nobel Kedokteran.

Dalam sebuah surat bertahun 1961 tapi dimunculkan 2013, Crick mengakui pentingnya karya Franklin dalam menentukan fitur tertentu dari molekul.


Jocelyn Bell Burnell

Ahli astrofisika Jocelyn Bell Burnell menemukan pulsar radio pertama ketika masih mahasiswa pascasarjana tahun 1967. Namun, supervisor tesisnya, yang adalah astronom laki-laki, yang memenangkan Nobel Fisika atas temuan itu tahun 1974.


Lisa Meitner

Albert Einstein menjulukinya Marie Curie dari Jerman, tapi itu tidak cukup untuk mengangkat nama Lisa Meitner di dunia sains.

Meitner, fisikawan Swedia-Austria, adalah tokoh kunci penemuan fisi nuklir. Namun Otto Hahn, kolaborator lamanya, yang memenangkan Nobel Kimia 1944 untuk penemuan itu.


Chien Shiung Wu

Orang menjulukinya Chinese Madam Curie, tapi khazanah sains lebih suka melupakan kontribusinya.

Fisikawan Cina-AS ini bekerja di Proyek Manhattan, sebuah proyek menghasilkam bom nuklir. Ia melakukan eksperiman, dikenal sebagai Eksperimen Wu, untuk membalikan apa yang sebelumnya dianggap sebagai hukum alam yang mendasar.

Wu hanya bisa tertegun ketika menyaksikan tiga rekan prianya; Aage Bohr dan Ben Roy Mottelson (Denmark) serta Leo James Rainwater (AS), memenangkan Nobel Fisika 1975.

Mungkin daftar ini akan semakin panjang karena begitu banyak perempuan yang terlibat dalam sains dan terabaikan. Kita tidak pernah tahu peran Mileva Maric, istri pertama Albert Einstein dalam penemuan sang suami.