Pekan Depan Dinasti Marcos Kembali Berkuasa di Filipina

Sabtu, 07 Mei 2022 – 15:44 WIB

Foto: freemalaysiatoday

Foto: freemalaysiatoday

Manila, REQNews.com -- Generasi tua Filipina masih belum lupa bagaimana Presiden Ferdinand Marcos terguling dan terusir pada 25 Februari 1986. Generasi muda Filipina dipastikan menempatkan Ferdinand 'Bongbong' Marcos, putra Ferdinand Marcos, di kursi presiden pada 9 Mei mendatang.

Sabtu 7 Mei 2022, Bongbong Marcos Jr menggelar kampanye terakhir. Ia akan berpidato di depan ratusan ribu simpatisan dan pendukungnya, saat jajak pendapat memperkirakan dia akan menang telak.

Kemenangan pada pemily Senin 9 Mei akan mengakhiri upaya puluhan tahun Klan Marcos merehabilitasi Ferdinand Marcos, setelah sang patriark digulingkan, keluarganya dipermalukan, dan dikejar-kejar di tempat pengasingannya di AS.

Tidak ada yang bisa menghalangi Bongbong Marcos kembali ke istana -- tempat yang ditinggalinya saat masih kecil. Kelompok aktivis hak asasi telah melakukan berbagai cara dan gagal.

Analis politik berkoar-koar tentang banyak hal, terutama kemungkinan jika Bongbong berkuasa, tapi tak menghentikan dukungan kepada putra Ferdinand Marcos. Bahkan pemimpin gereja Katolik tidak bisa lagi mengubah nasib Filipina.

AFP menulis popularitas Bongbong Marcos dipicu kemarahan publik atas korupsi dan kemiskinan. Menariknya, sembilan calon presiden lain menawarkan solusi tapi Bongbong Marcos adalah pilihan pertama.

Jajak pendapat memperlihatkan Bongbong Marcos akan menang dengan lebih 50 persen suara. Artinya, dia akan menjadi sejarah; sebagai presiden pertama yang mendapatkan mayoritas mutlak sejak Ferinand Marcos digulingkan tahun 1986.

Analis memperingatkan hasil pemilu seperti itu akan mengarah pada pemeriksaan dan keseimbangan demokrasi lebih lemah, lebih banyak korupsi, dan upaya merombak konstitusi 1987 yang dapat mencakup penghapusan bebas satu masa jabatan presiden.

"Jika dia menang sangat besar, itu bisa memberinya kepercayaan dan momentum untuk mengubah sistem politik Filipina secara radikal," kata analis politik Richard Heydarian.

Rodrigo Duterte, presiden Filipina saat ini, mencoba mengamandemen konstitusi tapi tidak memiliki cukup dukungan di Kongres. Bongbong Marcos Jr akan memerintah seperti diinginkan Duterte.

Leni Robredo, yang mengalahkan Bongbong Marcos Jr dalam pemilihan wakil presiden 2016, memperingatkan pendukungnya bahwa masa depan negara sedang dipertaruhkan.

Robredo asat ini 33 poin persentase di belakang Bongbong Marcos, menurut jajak pendapat Pulse Asia Research. Robredo mengalami kenaikan dalam jajak pendapat, tapi -- menurut jajak pendapat Ana Maria Tabunda dan Pulse Asia -- kecil kemungkinan Bongbong Marcos Jr kehilangan suara.


Saling Tuding

Kampanye pekan terakhir diwarnai trik kotor dan saling tuding. Bongbong Marcos Jr memperingatkan akan kecurangan perhitungan suara. Robredo membalas dengan menuduhnya pembohong.

Ratusan ribu pendukung Bongbong Marcos Jr dan Robredo hadir di Manila sepanjang Sabtu, yang membuat aparat keamanan bersiaga serius.

Beberapa jam sebelum kampanye ruang terbuka Robredo dimulai, ribuan pendukung yang mengenakan warna merah muda berkumpul di bawah terik matahari. Kampanye berlangsung di Makati, distrik keuangan Manila.

Masih kesal dengan kekalahan 2016, Bongbong Marcos Jr melakukan kampanye dengan pengawasan ketat. Ia melewatkan debat televisi dengan pesaingnya karena tidak ingin membuat blunder.

Bongbong Marcos Jr lebih suka memposting video yang menampilkan diri dan keluarganya sebagai keluarga rakyat biasa di Filipina. Padahal, siapa pun tahu Klan Marcos adalah yang terkaya di antara klan politik di Filipina.

Kampanye misinformasi media sosial, yang didanai dengan baik, memainkan peran penting bagi upaya Bongbong Marcos Jr meraup suara generasi muda. Maklum, generasi muda tak punya pengalaman atau kenangan akan suasana penggulingan Ferdinand Marcos.

Populasi Klan Marcos semakin kuat lewat aliansi tangguh dengan Sara Duterte, calon wakil presiden dan putri Rodrigo Duterte. Dua dinasti politik Filipina seolah tak akan kesulitan untuk berkuasa enam tahun ke depan.


Enam Tahun Neraka

Tidak ingin kalah sebelum berlaga, pembela hak asasi dan para imam Katolik di Filipina melancarkan desakan terakhir kepada rakyat agar menghentikan Bongbong Marcos Jr kembali ke Malacanang.

"Akan menjadi enam tahun neraka jika putra diktator Marcos itu kembali ke Malacanang," kata Mae Paner, salah watu warga Filipina yang terlibat dalam penggulingan Ferdinand Marcos, dan kini mendukung Robredo.

Ratusan imam Katolik secara terbuka mendukung Robredo dan Francis Pangilinan. Kepada umat Katolik, para imam mengatakan pemilu kali ini adalah pertempuran jiwa bangsa.

Robredo menikmati dukungan gereja dan aktivis, tapi -- menurut asisten dosen ilmu politik Universitas De La Salle Manila Cleve Arguelles -- tetap tidak akan mudah.

Heydarian mengatakan keputusan terlambat Rebredo untuk mencalonkan diri membuatnya kehilangan waktu. Di sisi lain, persaingan di antara para calon hanya menguntungkan Bongbong Marcos Jr.