IFBC Banner

Toponimi Jakarta Barat: Melacak Asal-usul Nama Kampung di Jakarta tanpa Konon Katanya

Rabu, 01 Juni 2022 – 23:31 WIB

Foto: COLLECTIE TROPENMUSEUM

Foto: COLLECTIE TROPENMUSEUM

Jakarta, REQNews.com -- H Ahmad Syaropi, kepala Suku Dinas (Sudin) Kebudayaan Jakarta Barat, punya cerita menarik soal upayanya mencari tahu asal-usul nama Cengkareng dan kampung-kampung di sekelilingnya yang kini menjadi kelurahan.

Maklum, Yopi -- demikian Ahmad Syaropi dipanggil rekan-rekannya -- asli orang Cengkareng. Ia lahir dan dibesarkan di Cengkareng, dari keluarga yang juga asli orang Cengkareng.

"Saya bertanya ke orang-orang tua, tidak ada yang tahu," Yopi memulai ceritanya. "Setelah semua serba digital, saya cari di Google. Ada banyak tulisan tentang Cengkareng, tapi bukan asal-usul namanya."

Akhirnya, Yopi berteori. Cengkareng, katanya, berasal dari kacang goreng, atau kacang dioseng-oseng. Namun, ia tidak punya sumber atau data sejarah yang mengkonfirmasi teori itu. Dari situlah muncul keinginan Yopi menerbitkan buku yang berkisah tentang kampung-kampung di Jakarta Barat.

Pekan lalu sebuah buku tentang asal-usul nama-nama tempat di Jakarta Barat, judulnya Toponimi Jakarta Barat, muncul. Buku ditulis dua wartawan; Teguh Setiawan dan Amin Suciady, dan diterbitkan Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat.


Tanah Partikelir dan Sejarah Nama

Buku dimulai dengan cerita tentang Cengkareng, sebuah wilayah bekas tanah partikelir (particuliere landerijen) era VOC dan Hindia Belanda, yang kini menjadi nama kecamatan dan dua kelurahan; Cengkareng Barat dan Cengkareng Timur.

Alasan menempatkan Cengkareng sebagai pembuka cukup jelas. Penggagas buku ini orang Cengkareng, dan dua penulisnya juga orang Cengkareng tapi beda kampung.

Penulis menggunakan arsip VOC dan Hindia Belanda, terutama catatan tanah-tanah parikelir yang muncul secara berkala, peta koleksi F de Haan, dan statistik kependudukan di wilayah tembok luar Batavia, atau Ommelanden.

Yang juga tak kalah penting adalah catatan Andreis Teissier, salah satu tuan tanah di Ommelandan, raja gula pertama di Pulau Jawa, dan pengelana. Teissier yang kali pertama menyebut Tjengkaring, dan membuka peluang penulis menelusur lebih jauh nama itu.

Tjengkaring adalah nama yang muncul akibat kesalahan penulisan kata Tjangkring, sebuah pohoh semak berduri yang punya nama ilmiah Erythrina collarodendron. Menggunakan teori toponimi dan tradisi orang-orang Belanda memberi nama wilayah, buku ini bercerita bagaimana sebuah nama Tjengkareng lahir, tercatat dalam arsip Belanda, dan diwariskan ke penduduk. Catatan-catatan berkala VOC dan Hindia Belanda digunakan untuk memperlihatkan bagaimana nama Tjengkareng berevolusi.

Evolusi bisa disebabkan dua hal; kesalahan penulisan, serta kesalahan penyebutan. Kasus Cengkareng mungkin menarik, bagaimana evolusi itu terjadi sejak wilayah itu menjadi tanah partikelir di abad ke-17 dan berakhir tahu 1930-an, atau ketika pemerintah Belanda membeli kembali tanah wilayah Cengkareng.

Sebagian besar tanah partikelir di Ommelanden, atau kawasan luar tembok kota, punya sejarah penamaan yang sama. Ketika tidak ada penduduk di tanah yang dipetakan, juru ukur (landmeeter) akan memberi nama berdasarkan tanaman yang mendominasi atau karakteristik yang menonjol.

Dari sini lahir nama Kapuk, Kembangan, Duri Kosambi, Grogol, Kemanggisan, Kebon Jeruk, dan masih banyak lagi. Namun, tidak seluruh nama nama kampung yang kini menjadi kelurahan adalah eks tanah partikelir.

Sebagian adalah kampung-kampung di dalam tanah partikelir. Kampung dibentuk ketika landheer, tuan tanah, mendatangkan penduduk dari luar Ommelanden yang mengolah tanah pertanian miliknya. Duri Kepa, Kedoya, dan Pegadungan, adalah nama-nama kampung di dalam tanah partikerlir. Namun, penamaan kampung-kampung itu tetap mengacu pada topografi wilayah.


Asumsi yang Keliru

Sebagian besar nama-nama kampung, tempat, atau permukiman lama berasal dari nama tanaman. Asumsi yang tidak keliru, tapi tidak selamanya benar.

Ketika asumsi ini digunakan untuk mengkaji Pinangsia, sebuah kelurahan di Kecamatan Taman Sari, yang muncul adalah bayangan bahwa di kawasan itu dulunya -- kata yang biasa digunakan penulis toponimi di media online -- banyak pohon pinang.

Tidak ada bukti yang menyebutkan Pinangsia adalah tanah partikelir, yang namanya diberikan landmeeter. Bukti lain, Pinangsia terletak di kawasan Pecinaan era Hindia-Belanda.

Nama Pinangsia relatif muncul di penghujung abad ke 19, ketika wilayah itu ditata menjadi distik keuangan. Ada seutas jalan bernama Financienstraat, kini bernama Jl Pinangsia, terdapat kantor-kantor bank dan bisnis keuangan.

Pelaku bisnis keuangan bukan hanya orang Belanda tapi juga Tionghoa totok atau xinke. Kata Pinangsia lahir dari ketidak-bisaan orang Tionghoa totok mengucapkan Financienstraat. Nama itu populer dan digunakan di kalangan pemukim Cina di Batavia sampai pergantian abad sampai akhirnya mapan.

Contoh menarik lainnya adalah Meruya. Dalam peta VOC tertulis Maruja. Kata ini kali pertama digunakan untuk nama spruijt, atau sungai kecil yang berulu di rawa-rawa.

Maruja bukan nama pohon, kendati wilayah itu tanah partikelir. Nama Maruja, seperti dalam kasus Kalideres, diberikan pemilik pertamanya. Orang-orang tua sekitar diwariskan cerita bahwa Meruya adalah nama seorang perempuan baik hati dan cantik. Maruja ternyata nama lain Maria, ibu Yesus Kristus atau Isa Al Masih.

Buku ini menghindari dua kata yang banyak digunakan penulis, yaitu konon katanya dan dulunya. Penulis buku berusaha menjelaskan sejarah penamaan suatu tempat berdasarkan arsip VOC dan Hindia-Belanda. Sumber dari orang-orang tua diminimalkan dengan alasan-alasan tertentu.


Buku Penting

"Buku ini akan menjadi penting di masa depan karena menjelaskan secara singkat namun padat sejarah dan penamaan sebuah daerah di Jakarta Barat," kata Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam sambutan tertulisnya di dalam buku ini.

Menurut Gubernur Anies, sebagai kota yang dinamis dan terus mengalami perkembangan, buku ini bisa membuat kita menengok ke belakang, dan menilai sejauh apa kita melangkah.

Kepala Dinas Kebudayaan Propinsi DKI Jakarta Iwan Hendry Wardhana memberikan apresiasi tinggi atas terbitnya buku ini. "Saya berharap wilayah lain juga memiliki kegiatan penyusunan buku toponimi," ujar Iwan Hendry dalam sambutannya.

Menurut Iwan Hendry, alangkah menarik jika seluruh wilayah kota di Propinsi DKI Jakarta memiliki buku toponimi, sehingga masyarakat tahu sejarah tempat tinggal masing-masing.