IFBC Banner

Pasar Gambir, Pasar Inlander Lapar, dan Jakarta Fair

Sabtu, 18 Juni 2022 – 14:44 WIB

Pasar Gambari 1925. Foto: missosology.info

Pasar Gambari 1925. Foto: missosology.info

Jakarta, REQNews.com -- Banyak orang menulis Pekan Raya Jakarta (PRJ) saat ini adalah kelanjutan dari Pasar Malam Gambir, event tahunan pemerintah kolonial Hindia-Belanda yang digelar di lokasi sekitar Stasiun Gambir sampai Monas pada saat itu. Namun, tidak terlalu banyak sumber sejarah yang bisa dijadikan rujukan untuk menggambarkan suasana Pasar Malam Gambir.

Generasi tua yang masih menyimpan kenangan tentang event tahunan itu relatif tinggal sedikit dan sebagian besar mungkin sudah sulit bercerita. Generasi masa kini yang ingin merasakan suasana Pasar Malam Gambir mungkin hanya bisa membalik-balik Verslag nopens de Pasar-Gambir atau Laporan tentang Pasar Gambir, atau Programma van den Pasar Gambir -- Program Pasar Gambir -- antara tahun 1900 sampai 1930.

Hampir seluruh teks kolonial Belanda menyebutkan Pasar Gambir digagas Pemerintah Hindia-Belanda. Pasar Gambir pertama diselenggarakan tahun 1898 untuk memperingati penobatan Wilhelmina sebagai Ratu Belanda. Tahun-tahun berikutnya dan sampai dihentikan Jepang tahun 1942, Pasar Gambir digelar untuk menyambut hari ulang tahun Ratu Wilhelmina pada 31 Agustus.

Pasar Gambir pertama dibuka pada 31 Agustus, bertepatan dengan hari kelahiran dan penobatan Wilhelmina. Berikutnya, Pasar Gambir dibuka pada pekan terakhir Agustus dan berakhir pada pekan pertama September.

Tjalie Robinson, intelektual keturunan Inggris-Belanda-Jawa dan sastrawan yang mengembangkan bahasa Petjok, mengatakan orang Belanda bukan penggagas pertama penyelenggaraan Pasar Gambir. Tjalie, tanpa menyebut sumber sejarahnya, menulis Sir Thomas Stamford Raffles pernah menyelenggarakan pasar malam tahun 1812 untuk memperingati ulang tahun Raja George III.

Raffles mengajak seluruh penduduk kulit putih, Inggris, non-Inggris, dan penduduk Batavia, berpesta bersama di Pasar Gambir. Setelah Raffles pergi dan Belanda kembali ke Jawa, demikian tulis Tjalie, orang-orang Belanda mengorganisasi pasar malam, tapi bukan di kawasan Gambir. Orang-orang Belanda lebih suka membuat pasar malam di kawasan Lunapark.

Elsevier Illustrated, majalah bulanan yang terbit di Belanda, membuat catatan menarik tentang Pasar Gambir. Pada dekade pertama tahun 1900-an, Pasar Gambir tidak ubahnya pasar biasa. Stan dan paviliun tidak menarik dan kawasan sekujur pasar hanya disesaki berbagai atraksi permainan dan hiburan.

Tahun 1921 Pasar Gambir sempat kehilangan daya tariknya. Penduduk kulit putih Belanda menyebutnya sebagai pasar untuk inlander kelaparan. Meski demikian, Pemerintah Hindia-Belanda tetap menyelenggarakan Pasar Gambir pada tahun berikutnya.

Tahun 1923 Pasar Gambir menjadi sedemikian cantik, dengan gerbang dan seluruh paviliun dibuat semenarik mungkin. Lebih menarik lagi, bangunan paviliun bergaya arsitektur lokal.

Adalah JH Antonisse, arsitek otodidak, yang melakukan semua ini. Antonisse tiba di Batavia tahun 1914 pada usia 26 tahun. Ia tertarik pada arsitektur lokal dan mempelajarinya. Ia juga mempelajari konstruksi bambu untuk rumah-rumah semipermanen.

Tahun 1920 Antonisse menjadi kepala Departemen Teknik Kota Madya Batavia. Tiga tahun kemudian, Antonisse ditugaskan menyulap Pasar Gambir agar event tahunan itu kembali dikunjungi warga kulit putih Batavia. Antonisse tidak asal sulap. Ia menetapkan tema-tema lokal dari tahun ke tahun.

Misal, ketika kali pertama dipercaya menyulap Pasar Gambir, ia memilih tema Minangkabau. Mulai dari gerbang, paviliun utama, sampai stan-stan kecil dibangun dengan arsitektur Minangkabau. Tahun berikutnya, ia menggunakan tema Batak, Siam, Jawa, Cina, dan lainnya, Ia mencomot mentah-mentah atap Masjid Agung Demak untuk bagian atas sebuah paviliun utama yang tidak jauh dari pintu gerbang.

Tidak hanya itu, Antonisse lebih suka menggunakan bahan bangunan paling murah dan mudah didapat, yaitu bambu untuk konstruksi bangunan, daun kelapa, juga daun enau sebagai atapnya. Dinding bangunan menggunakan anyaman bambu. Tahun 1931 karya Antonisse mendapat pengakuan dari masyarakat arsitektur Prancis.

Semua itu berlangsung sampai 1930. Memasuki dekade keempat tahun 1900-an, wajah Pasar Gambir berubah. Arsitek berikutnya, menurut majalah itu, lebih menampilkan suasana Eropa.

Laporan lain dalam Elsevier Illustrated menyebutkan, Pasar Gambir 1934 tidak ubahnya kota fantasi. Di Pasar Gambir, ayam dan kambing melompat-lompat selama dua pekan dan burung di tongkat tak berhenti mengalukan suara agar pengunjung terhibur.

Orang-orang kulit berwarna dan putih berpakaian Jogja dan Solo hilir mudik, orang-orang Arab mengerumuni pusat penjualan furnitur, para inlander hanya melihat-lihat bunga sisik mutiara, sedangkan orang Eropa memadati restoran-restoran yang menyajikan kuliner khas Jawa, Sunda, dan Batavia.

Kuliner Belanda yang hadir di Pasar Gambir relatif hanya gorengan dan sup kacang, namun tidak diminati. Antonisse tampaknya telanjur membawa semua warna lokal Hindia-Belanda ke dalam Pasar Gambir. Akibatnya, meski arsitektur pasar telah berubah, semua pernak-pernik yang ditampilkan relatif masih bernuansa lokal.

Tidak ada catatan berapa partisipan yang terlibat di Pasar Gambir antara 1900 sampai 1930. Yang pasti, sekelompok pengrajin topi bambu dari Tangerang adalah partisipan aktif sampai 1930. Selepas 1930, tidak ada lagi stan promosi topi bambu Tangerang. Ketiadaan ini merupakan indikasi nyata berakhirnya masa keemasan kerajinan topi bambu Tangerang.

Produk lokal lainnya yang menonjol adalah Kecap Benteng. Bahkan, produk rumahan paling beken di Batavia ini masih terus hadir sampai 1942.

Namun, Pasar Gambir bukan satu-satunya “kota fantasi” di Hindia-Belanda. Di Cibatu, wilayah sebelah utara Garut, pemerintah setempat membuat event serupa tahun 1912 untuk menghormati ulang tahun ketiga Putri Juliana.

Di Medan, pemerintah setempat menggelar pasar malam untuk memperingati seperempat abad pemerintahan Ratu Wilhelmina pada 1923. Tahun yang sama, Tanjungkarang juga menyelenggarakan pasar malam untuk merayakan pernikahan Putri Juliana dan Pangeran Bernhard.

Bagaimana dengan Pekan Raya Jakarta? Sebagai kelanjutan dari Pasar Gambir, event tahunan itu nyaris tanpa identitas nasional dan lokal.