Bukan Cuma Laksamana Maeda, Orang Jepang Ini Pun Berjasa Saat Kemerdekaan Indonesia

Jumat, 16 Agustus 2019 – 20:30 WIB

Rahmat Shigeru Ono (doc: istimewa)

Rahmat Shigeru Ono (doc: istimewa)

JAKARTA,REQnews - Selama ini kebanyakan orang hanya mengenal Laksamana Muda Maeda sebagai salah satu tokoh Jepang yang membantu menyiapkan kemerdekaan Indonesia. Padahal, ada orang Jepang lainnya yang pernah hanya melatih perang pejuang Indonesia.

Tak hanya itu, ia juga menyusun buku taktik perang ala Nippon. Siapakah dia?

Namanya Shigeru Ono

Tahun 1945, Jepang kalang kabut setelah sekutu berhasil melumpuhkan Hiroshima dan Nagasaki. Para serdadu Jepang yang berada di Indonesia pun bingung. Mereka diantara pilihan untuk berada di Indonesia, atau kembali ke Jepang. Sebagian bahkan memilih Harakiri alias bunuh diri untuk memulihkan kehormatan.

Tapi hal itu tak dilakukan oleh Shigeru Ono. Ia memilih membelot ke Indonesia dan membantu Indonesia merdeka. Bahkan ia juga ikut berjuang melawan Belanda yang mencoba mengambil alih kembali Indonesia.

Lumuri tubuh dengan lumpur hingga berganti nama

Ono keluar dari ketentaraan Jepang atas saran Kapten Sugono, komandan polisi militer Jepang di Bandung. Dia lalu mengganti pakaiannya dengan sarung dan peci. bahkan demi terlihat seperti orang Indonesia, ia melumuri tubuhnya dengan lumpur agar kulitnya terlihat lebih gelap. Tak lupa juga menambahkan “Rahmat” di awal namanya sehingga namanya menjadi Rahmat Shigeru Ono.

Latih Pejuang Indonesia

Tahun 1947, terjadi perang revolusi meletus. Disini Ono ditugaskan untuk melatih para pejuang Repubulik. Selain itu, bersama eks tentara Jepang dan pejuang Indonesia, Ono bergerilya dari satu tempat ke tempat lain. Salah satunya, menyerang markas KNIL di Mojokerto pada Juni 1947.

Ono kemudian menyingkir ke Yogyakarta. Dia menjalankan tugas penting dari Markas Besar Tentara untuk membuat buku rangkuman tentang taktik perang dan menerjemahkannya ke bahasa Indonesia.

Atas perintah Kolonel Zulkifli Lubis, petinggi militer Indonesia yang kelak menjadi pejabat KSAD, Ono juga menyusun buku tentang taktik khusus perang gerilya.

Pekerja Serabutan hingga meninggal karena Tipus

Dalam perang Revolusi itu, Ono ikut bertempur mengusir Belanda di berbagai daerah. Meskipun jasanya besar dalam perang revolusi, semasa hidupnya sungguh menyedihkan. Setelah Belanda secara resmi mulai mengakui kedaulatan Indonesia, Ono lalu pindah dan menetap di Batu, Malang, Jawa Timur.

Dia mengisi hari-harinya dengan bercocok tanam. Pada Juli 1950, Ono menikah dengan Darkasih dan dikaruniai lima anak.

Setelah itu, ia mulai bekerja serabutan. Ia pernah bekerja sebagai salesman lampu, pegawai perusahaan peternakan di Jakarta, dan perusahaan eksportir rotan di Kalimantan.

Setelah pensiun pada 1995, dia kembali ke Batu dan mengisi waktu dengan bertani apel, menerima wartawan, serta mengunjungi keluarga atau kenalan yang sakit. Di tahun 2014, tepatnya 25 Agustus, ia berpulang akibat penyakit tifus dan pembengkakan pembuluh darah yang dideritanya.