Selamat Ulang Tahun Baharudin Lopa, Jaksa Agung yang Berani dan Anti Suap 

Selasa, 27 Agustus 2019 – 19:00 WIB

Almarhum Baharudin Lopa (doc: istimewa)

Almarhum Baharudin Lopa (doc: istimewa)

JAKARTA, REQnews - Anak muda zaman sekarang mungkin banyak yang tak kenal Baharudin Lopa. Namun patut diketahui sosok ini merupakan salah satu jaksa agung yang jujur dan bersahaja dalam sejarah hukum Indonesia. Dan hari ini adalah ulang tahunnya.

Lopa lahir di Pambusuang, Balanipa, Polewali Mandar, Hindia Belanda, 27 Agustus 1935 silam. Datang dari keluarga terpandang lantas tak membuat dia jumawa apalagi berfoya-foya.

Gaya hidupnya yang sederhana rupanya diturunkan dari sang Kakek yang bernama Mandawari, seorang raja Balangnipa di daerah Mandar. Berikut ini beberapa kisah tentang kesederhanaan dan kejujuran Lopa semasa hidupnya.

Tolak Upeti

Wakil Presiden Jusuf Kalla pernah mengisahkan bahwa Lopa bukan tipe pejabat yang suka menerima upeti. Dia tidak suka memeras. Suatu hari, ketika masih mengurus bisnis mobil di Indonesia timur, Jusuf Kalla dapat telepon dari Lopa.

Lopa ingin membeli mobil ketika itu. Kalla mengira, sebagai Dirjen Lapas, Lopa ingin punya sedan kelas satu. JK menawarkan Toyota Crown. Lopa terkejut dan keberatan mendengar harganya, yang kala itu mencapai 100 juta rupiah. Lopa lalu minta referensi yang lebih murah. Jusuf tawarkan Cressida yang harganya kala itu 60 juta rupiah.

Ternyata mobil itu pun masih dianggap mahal oleh Lopa. Akhirnya, Jusuf Kalla menyodorkan Corona yang kala itu seharga 30 juta rupiah. Namun, harganya tak disebutkan karena Kalla berniat memberikannya untuk Lopa.

Lopa menolak mentah-mentah pemberian semacam itu. Lopa masih menolak ketika Kala hanya memberi harga mobil itu 5 juta rupiah saja. Lopa hanya mau membayar dahulu uang muka dan berjanji akan membayar angsurannya pelan-pelan.

Kisah lainnya, yaitu suatu Minggu di tahun 1983, Lopa yang masih menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan diundang menjadi saksi pernikahan di sekitar Makassar. Riri Amin Daud sang tuan rumah beserta kerabatnya menunggunya. Mereka mengira, Lopa akan naik mobil dinas berplat DD-3.

Mobil itu tak kunjung datang. Suara Lopa rupanya sudah terdengar dari dalam rumah. Ternyata, Lopa bersama istrinya datang dengan naik pete-pete (angkot). Kata Lopa, itu hari Minggu dan bukan acara dinas. Haram hukumnya naik mobil kantor. Begitulah kesederhanaan dan kejujuran Lopa mengemban amanah sebagai penegak hukum.

 

Tak Punya Rasa Takut

Ia juga dikenal sebagai jaksa yang hampir tidak punya rasa takut. Sepanjang karirnya di kejaksaan, Lopa pernah menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi di Sulawesi Tenggara, Aceh, Kalimantan Barat serta Sulawesi Selatan, dan juga mengepalai Pusdiklat Kejaksaan Agung di Jakarta.

Begitu menjabat Jaksa Agung, menggantikan Marzuki Darusman, Lopa langsung bekerja keras memberantas korupsi. Termasuk meneruskan penyelidikan kasus BLBI II. Ia juga menangani dugaan kasus korupsi kroni Presiden ke-2 Soeharto. Dia misalnya memenjarakan mantan Menteri Perindustrian Bob Hasan ke Nusakambangan.

Lopa pernah juga menyeret seorang pengusaha besar, Tony Gozal alias Go Tiong Kien yang dianggap kebal hukum. Gozal punya hubungan dengan pejabat negara. Bagi Lopa, tak seorang pun boleh kebal hukum. Gozal diseret ke pengadilan dengan tuduhan telah memanipulasi Dana Reboisasi di Departemen Kehutanan, 2 miliar rupiah.

Sayang, Lopa hanya memanggul amanah tersebut selama sebulan sebelum akhirnya menghadap Yang Maha Kuasa. Dia wafat pada 3 Juli 2001 ketika tengah menjalankan umrah di Arab Saudi, akibat kelelahan dan gangguan pada jantungnya.

Atas jasa-jasanya, Lopa pun menerima anugerah Government Watch Award (Gowa Award) atas pengabdiannya memberantas korupsi di Indonesia selama hidupnya. Simboliasi penganugeragan penghargaan itu ditandai dengan Deklarasi Hari Anti Korupsi yang diambil dari hari lahir Lopa pada 27 Agustus 2003 silam. (Binsasi)