Mengenang 5 Aktivis HAM Indonesia yang Terbunuh Keji

Minggu, 22 September 2019 – 19:00 WIB

Almarhum Munir (doc: kinibisa.com)

Almarhum Munir (doc: kinibisa.com)

JAKARTA, REQnews - Jadi seorang aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) bukanlah perkara gampang. Mereka harus berjuang melawan lembaga pemerintah atau perusahaan yang dinilai tak adil tapi memiliki pengaruh sangat besar.

Tak jarang, nyawa jadi taruhannya. Sebab jika aktivis ini sangat berani, maka pihak-pihak yang merasa sangat dirugikan pasti mengambil jalan pintas, yakni membunuh karakter sekaligus nyawa aktivis tersebut.

Setidaknya hal itu terjadi pada sejumlah aktivis HAM di Indonesia. Mereka ditemukan tak bernyawa akibat dibunuh oleh oknum tak bertanggung jawab.

Mari kita sejenak mengenang perjuangan aktivis-aktivis pembela rakyat kecil ini!

 

1. Munir

Kematian Munir akibat diracun zat arsenik menjadi isu yang meledak di Indonesia. Bahkan dunia internasional menyorot kematian aktivis HAM ini. Sampai sekarang motif kematian dari Munir tak juga jelas. Seperti sengaja ditutup-tutupi dan tak dibuka secara gamblang. Namun dari beberapa dugaan yang muncul, Munir dibunuh karena ia memiliki dokumen pembantaian di Talang Sari, Lampung tahun 1989, lalu penculikan aktivis 1998, referendum Timor Timur, hingga kampanye hitam di pemilu 2004.

Istri Munir, Suciwati menyakini jika suaminya adalah orang penting yang bisa membahayakan “orang berkepentingan”. Akhirnya ia dibunuh agar kasus yang Munir ketahui tak dibuka dan menjadi masalah baru. Selain itu ada dugaan juga kematian Munir berhubungan dengan pemberantasan terorisme. Beliau selalu menanyakan perihal HAM para pelaku teror yang tak diperhitungkan BIN dan Detasemen Antiteror.

 

2. Theys Eluay

Theys Eluay adalah seorang aktivis besar di tanah Papua. Ia hadir dan berjuang jauh sebelum Munir. Namun ia justru dilupakan dan tak pernah diungkap lagi kasus pembunuhannya. Theys dibunuh di dalam mobilnya oleh anggota militer Indonesia. Tujuh orang eksekutor di lapangan telah ditangkap dan di adili. Namun dalang dan otak dibalik aksi ini masih belum jelas hingga sekarang.

Ada indikasi jika kasus ini sengaja dilakukan oleh pemerintah karena Theys dianggap sebagai separatis, dan pemersatu rakyat Papua. Seperti yang kita tahu bersama, Papua adalah menyimpan sumber daya alam yang sangat banyak. Namun daerah ini juga dikenal sebagai daerah yang tak tersentuh modernisasi. Pergolakan di Papua sama saja menghalangi pundi-pundi uang mengalir dengan deras.

 

3. Salim Kancil

Salim Kancil adalah petani yang juga merupakan aktivis lingkungan di Lumajang, Jawa Timur. Beberapa hari yang lalu, ia ditemukan tewas dengan keadaan mengenaskan di desanya. Kepalanya mendapatkan luka hantaman batu dan juga bekas gergajian. Selama ini Salim Kancil memperjuangkan lingkungannya dengan menolak adanya penambangan pasir.

Sebenarnya ia telah melapor kepada pihak Kepolisian atas adanya ancaman. Namun pihak terkait tak juga memberikan perlindungan kepada korban. Akibatnya, Salim dikeroyok belasan orang dan tak bisa melakukan apa-apa. Pun kejadian ini dilakukan di siang hari dan dilihat warga yang juga selalu diancam. Komnas HAM sedang melakukan penyelidikan untuk mengetahui siapa dalang di balik aksi keji ini.

 

4. Jopi Perangingangin

Jopi adalah seorang aktivis lingkungan hidup yang dikenal sangat “vocal” dalam urusan perusakan lingkungan. Semasa hidup dia aktif dalam lembaga Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Ia selalu menyuarakan hak-hak petani yang terampas oleh industri ekstraktif seperti kelapa sawit dan tambang. Jopi selalu aktif menyuarakan apa yang ia rasakan ke sosial media.

Sekitar Mei 2015, Jopi ditemukan dalam keadaan yang mengenaskan. Ia dikeroyok oleh sekelompok orang berbadan tegap dan rambut cepak. Di sana Jopi dihajar dan juga ditusuk pada punggungnya menggunakan bayonet hingga akhirnya meninggal dunia. Pihak Kepolisian masih menyelidiki kasus kematian Jopi dan sampai sekarang belum ada titik temu yang jelas.

 

5. Marsinah

Marsinah adalah aktivis buruh yang meninggal dengan sangat mengenaskan sekitar tahun 1993. Ia dibunuh oleh orang yang tak dikenal akibat perjuangannya dalam memperjuangkan nasib buruh. Ia berada di garda depan meski usianya masih sangat muda untuk menuntut perbaikan upah buruh yang sudah ditetapkan oleh Gubernur Jawa Timur saat itu.

Namun sayang, apa yang dilakukan oleh Marsinah tak berbuah manis. Ia dianggap sebagai pembangkang dan wajib dimusnahkan agar kepentingan pihak pabrik berjalan dengan baik. Kasus Marsinah menjadi simbol perlindungan akan HAM di Indonesia masih sangat rendah. Bahkan bisa dibilang tak ada sama sekali. Terutama bagi rakyat kecil.

 

Selain lima aktivis ini, sebenarnya masih banyak sekali aktivis perjuangan yang mendapat perlakukan tidak baik oleh oknum. Mereka hilang dan tak pernah di temukan sampai sekarang.

Masalah perlindungan HAM dan juga perlindungan keselamatan di Indonesia belumlah baik. Kita hanya bisa berharap agar pemerintah lebih memperhatikan nasib aktivis yang bisa meregang nyawa sewaktu-waktu akibat dibunuh. Dan kejadian seperti Salim Kancil, Jopi, Munir, dan lainnya tak akan terulang lagi. (Binsasi)