Cerita Adnan Buyung: Ketika Soeharto ‘Berpura-pura’ dalam Pendirian LBH

Senin, 23 September 2019 – 11:30 WIB

Mendiang Adnan Buyung Nasution (doc: harianindo.com)

Mendiang Adnan Buyung Nasution (doc: harianindo.com)

JAKARTA, REQnews – Terbentuknya Lembaga Bantuan Hukum (LBH) merupakan gagasan dari seorang Adnan Buyung Nasution di tahun 1969.

Dalam autobiografinya, Buyung bercerita bahwa pada mulanya ide tentang pendirian LBH dia kemukakan dalam kongres Persatuan Advokat Indonesia (Peradin) III pada 18-20 Agustus 1969.

Ternyata, ide ini didukung oleh kongres kemudian ditindaklanjuti oleh Adnan. Selain dukungan politis dari Peradin, Buyung juga mendapat dukungan moril dari mahasiswa dan cendekiawan.

Agar LBH "tidak digebuk" rezim Orde Baru (Orba), maka Buyung berusaha menemui Ali Murtopo untuk meminta persetujuan pendirian LBH dan disambut dengan tangan terbuka.

Tidak cukup di situ, Buyung juga menyiapkan uraian tertulis mengenai pembentukan LBH untuk Presiden Soeharto. “Pak Harto sudah baca, katanya bagus, teruskan ide ini,” kata Ali kepada Buyung.

Tapi siapa yang menduga, kalau dukungan dari Soeharto dan Ali Murtopo kala itu ternyata tersemat maksud tertentu. Soeharto cuma ingin membangun citra bahwa pemerintah Orba mendukung demokrasi, hukum, dan HAM. Padahal, kenyataannya tidak demikian.

Namun, Buyung tak mau berburuk sangka. Ia percaya akan pada itikad baik pemerintah dan tetap fokus agar LBH bisa berdiri. Maka, setelah mendapat persetujuan dari pemerintah, Buyung pun mencari dukungan dari pemerintah DKI Jakarta yang kala itu dipimpin Ali Sadikin.

Buyung optimis bisa mendapat dukungan karena ia kenal Ali sebagai orang yang mendukung para seniman dan budayawan dengan membangun Taman Ismail Marzuki.

Ia  menulis dalam autobiografinya bahwa Ali Sadikin memiliki peran besar dalam pembentukan LBH. Bersama seorang aktivis sosial Nani Yamin, Buyung menemui Ali Sadikin di Rumah Sakit Ciptomangunkusumo.

Dalam pertemuan itu, dia mengatakan bahwa negara hukum tidak bisa ditegakkan hanya dengan pidato, tapi dengan tindakan nyata, yaitu membela rakyat.

“Ini termasuk pelayanan negara kepada rakyat yang butuh bantuan di bidang hukum... Dalam pembangunan Jakarta saya lihat bidang pelayanan hukum ini bagian yang belum digarap Bang Ali,” ujar Buyung.

“Wah, saya setuju dah, setuju! Saya mau. Buyung bikin proposalnya ya,” jawab Ali Sadikin.

Selain membuat proposal, Buyung juga diminta untuk melampirkan SK organisasi. Namun, dirinya tidak memiliki organisasi. Ali Sadikin lantas mengusulkan untuk melampirkan SK yang dibuat oleh Peradin untuk pendirian LBH.

Setelah syarat pembentukan LBH lengkap, maka LBH pun lahir dengan ditandai oleh pelantikan pengurus LBH pada 28 Oktober 1970 di Balai Kota oleh Ali Sadikin.

Pada peresmian kantor LBH di Jalan Ketapang, Ali Murtopo memberikan sumbangan lima sepeda motor untuk operasional. Namun, bantuan tersebut mendapat kritik dari sejumlah pihak. Namun, lagi-lagi, Buyung menjawab bahwa dia percaya pada itikad baik Ali Murtopo.

Di kemudian hari dugaan banyak pihak itu akhirnya jadi nyata. Ternyata benar, pemberian motor itu hanya bagian dari politik ‘pura-pura’ pemerintah Soeharto. Hal ini bisa dilihat dari keputusan Orba lewat Ali Moertopo untuk menahan Buyung selama dua tahun tanpa peradilan dengan tuduhan sebagai dalang Malari.

Tidak hanya itu, para pengacara LBH juga sering menerima ancaman ketika menangani kasus. Kasus yang diangkat umumnya melibatkan orang kurang mampu yang terintimidasi oleh militer.

Misalnya, membela orang-orang yang tanahnya diambil untuk pembangunan Simprug, kasus Tanjung Priok, pembangunan TMII, buku putih ITB, dan Kasus Waduk Kedungombo.

Beragam tantangan dan ancaman terhadap LBH datang dari dulu hingga kini. Buyung menyebut bahwa tantangan paling ringan berupa upaya penyuapan hingga intimidasi dan ancaman kekerasan.

“Namun, lama-kelamaan pengacara kami kebal dengan ancaman, terutama dalam kasus penting,” kata Buyung.

Pengacara gaek itu kini telah tiada. Buyung wafat pada usia 81 tahun, 23 September 2015 lalu, setelah sempat dirawat selama beberapa hari di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan.  Bahagia di Surga abadi, Bang. Jasamu tetap dikenang (Binsasi).