Sebelum Meninggal, Ciputra Pernah Dipukul dan Dimasukkan ke Gudang

Rabu, 27 November 2019 – 07:30 WIB

Almarhum Ciputra (Foto: Istimewa)

Almarhum Ciputra (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Pengusaha properti terkemuka di Indonesia, Ciputra meninggal dunia dalam usia 88 tahun. Meninggalnya Ciputra dikonfirmasi oleh Panji Pragiwaksono melalui akun Twitternya, Rabu 27 November 2019.

Panji mengatakan Ciputra meninggal di Singapura dini hari tadi. "Innalillahi wa inna illaihi rajiuun. Telah meninggal dunia, Bapak Ir Ciputra, Chairman dan Founder Ciputra Group di Singapore pada tgl 27 November 2019 pk 1:05 waktu Singapore," tulis Panji melalui akun Twitternya.

Sementara itu, Ketua Apindo Haryadi Sukamdani juga membenarkan kabar tersebut. "Iya benar," tuturnya.

Dikutip dari situs resmi Ciputra Group, Ciputra mendirikan perusahaannya pada 1981. Grup usaha Ciputra lainnya adalah PT Ciputra Surya Tbk, dan PT Ciputra Property Tbk.

Pria bernama asli Tjie Tjin Hoan pun menceritakan perjuangannya dalam mencapai kesuksesan. Hal itu disampaikan Ciputra saat menjadi narasumber dalam acara 'Jaya Suprana Show: Ciputra-Legenda Hidup' yang diunggah di YouTube.

Ciputra mengatakan, kisah suksesnya sudah tertulis dalam buku berjudul 'Ciputra: The Entrepreneur - Passion of My Life Ciputra'.

Pria kelahiran Parigi, Sulawesi Utara ini pun menceritakan bagaimana kehidupan masa kecilnya yang dididik dalam sekolah Belanda.

"Umur 6 tahun dikirim oleh ayah dan ibu saya untuk bersekolah di Kota Gorontalo. Sebab di Parigi itu tidak ada sekolah Belanda, di Gorontalo ada sekolah Belanda," kata Ciputra.

"Tapi saya dari kelas 2 ke 3 tertinggal kelas. Saya bahasa Belanda dapat angkat 4."

"Saya malas belajar bahasa Belanda, karena di rumah tidak memakai bahasa Belanda, kenapa saya harus belajar."

"Ketika saya belajar bahasa Belanda saya tertidur, dapat angkat 4," ujar Ciputra.

Waktu itu, kata Ciputra, dirinya tinggal bersama bibi tirinya dan dididik dengan keras. "Saya digembleng luar biasa," kata Ciputra.

Ciputra mengakui dirinya merupakan tipe anak yang suka melawan dan tegas serta ekspresif.

"Saya anak pelawan, pemberontak, kalau saya tidak setuju saya tidak setuju, saya ekspresif kepada mereka. Sehingga kalau salah telinga dijewer."

"Saya dipukul, diikat, dimasukkan ke gudang sebagai penjara," terang Ciputra.

Meski dalam didikan yang keras, Ciputra mengaku tetap bersyukur lantaran diajarkan untuk hidup secara jujur. Bahkan, kondisi perekonomian yang kurang juga sempat menjadi persoalan waktu itu.

"Lihat orang makan kue, saya tidak bisa makan kue. Orang berhenti istirahat, bisa membeli kue, permen, atau es, saya tidak bisa,"

"Tapi itulah saya bersyukur ada pembelajaran di tempat saya. Saya menjadi kuat. Tapi memang itu pembelajaran to be or not to be, apa anda berhasil kalau anda gagal, hancur," ujar Ciputra.