Menguak Sejarah Sunat, Para Laki-laki Wajib Baca Nih!

Senin, 02 Desember 2019 – 06:30 WIB

Ilustrasi sunat (suara.com)

Ilustrasi sunat (suara.com)

JAKARTA, REQnews – Mungkin di masa kini, sunat sudah dianggap sebagai hal biasa, bahkan tidak menjadi keharusan bagi kaum laki-laki. Tapi, kalau di masa lampau, praktik ini sifatnya wajib dan memiliki makna dan fungsi yang beragam tergantung kultur dan budaya masing-masing wilayah.

Kira-kira tradisi ini pertama kali muncul di mana ya?

Sunat di Mesir dan Israel

Referensi paling awal soal sunat berasal dari 2.400 SM. Sumber itu terlacak lewat sebuah relief di tanah pemakaman kuno Saqqara,Mesir yang menggambarkan serangkaian adegan medis, termasuk praktik sunat dengan pisau.

Di era Mesir Kuno, praktik ini dilakukan pada remaja pria yang akan diinisiasi menjadi pria dewasa dari kelas bangsawan. “Sunat Mesir mungkin juga telah digunakan untuk membatasi kelas elite khusus,” tulis laman Ancient Origin.

Namun, menurut perkiraan D. Doyle, dalam “Ritual Male Circumcicion: a Brief History” terbit dalam The Journal of the Royal College of Physicians of Edinburgh, sebenarnya orang Mesir mengadopsi sunat dari masa yang jauh lebih awal, dari orang-orang yang tinggal di wilayah yang lebih jauh ke selatan, ada kaitannya dengan bangsa Sumerian dan Semit (kini wilayah Sudan dan Ethiopia).

Sementara di Israel kuno, sunat memiliki makna, fungsi dan proses yang agak berbeda. Sunat merupakan penanda etnis yang menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari bangsa Israel.

Kini orang Yahudi modern, lazimnya melakukan sunat pada bayi, delapan hari setelah kelahiran.

Namun, praktik itu bisa juga dilakukan pada orang dewasa, jika diperlukan. Mereka biasanya orang yang tadinya non-Israel tapi kemudian memutuskan ingin masuk ke komunitas Yahudi.

“Salah satu cara yang membedakan agama Kristen dari Yudaisme adalah orang Kristen non-Yahudi tidak perlu disunat,” demikian penjelasan Ancient Origin.

 

Sunat di Budaya Afrika Lainnya

Meski dikenal sebagai pelopor praktik sunat, namun Mesir bukan satu-satunya budaya Afrika yang mempraktikkan sunat. Sunat umum di kalangan masyarakat Afrika timur. Sebagaimana di Mesir Kuno, biasanya sunat terkait ritus peralihan ke dewasa.

Laki-laki muda dari etnis Xhosa dan Zulu secara tradisional memiliki ritual sunat yang rumit, di mana tubuh mereka akan dicat dengan kapur sebelum disunat.

Mereka akan diisolasi dari komunitas selama beberapa minggu. Mereka tak boleh berdekatan dengan perempuan.

Setelah disunat, mereka akan meninggalkan kulit khitan yang terpotong di hutan sebagai simbol meninggalkan kehidupan masa kecil untuk menjadi laki-laki, dan kemudian mencuci kapur di sungai.

Budaya ini masih dipertahankan hingga kini, tetapi biasanya di rumah sakit bukan dengan cara tradisional lagi.

 

Sunat di Kawasan Oceania

Sunat secara historis tidak hanya di Afrika dan Timur Tengah. Praktik semacam ini juga dilakukan di Oceania dan Australia oleh suku Aborigin. Di Oceania dan Australia, sunat adalah ritual peralihan ke dewasa sekaligus ujian keberanian.

Mereka menggunakan kerang laut sebagai alat pemotongnya. Orang yang disunat ditahan tubuhnya agar menghadap ke atas. Dia berbaring di punggung seorang pria yang berlutut. Lengan dan kakinya dipegangi pria lain.

Untuk menghentikan pendarahan, menurut Doyle, mereka berjongkok atau berdiri di atas asap dari api yang ditutupi dengan daun kayu putih selama beberapa jam.

Ada yang mengatakan, darah yang menetes ke dalam api adalah simbol simpati kepada perempuan yang mengalami menstruasi.

 

Hukuman Bagi Musuh di Masa perang

Bukan hanya sebagai ritual menuju dewasa dan alasan keagamaan, sunat juga digunakan untuk menghukum tentara musuh. Beberapa kasus terjadi di Timur Tengah, Afrika timur, dan Asia Selatan.

W.D. Dunsmuir dan E.M. Gordon dari Department of Urology St. George’s Hospital NHS Trust dalam "The History of Circumcision" yang terbit di Journal BJU International menyebut, sunat juga dipercaya sebagai tanda kekotoran atau perbudakan.

Di Mesir Kuno misalnya, prajurit yang ditangkap sering dimutilasi sebelum dijadikan budak.

 

Siapa Tukang Sunatnya?

Dunsmuir dan Gordon mengatakan, pada zaman Alkitab sunat dilakukan para ibu ketika bayi baru lahir. Namun, perlahan-lahan tukang sunat (mohel) mengambil alih. Mereka adalah pria yang memiliki keterampilan bedah dan pengetahuan agama yang mumpuni.

Sementara dalam masyarakat Mesir Kuno, sunat dilakukan oleh pendeta dengan kuku jempolnya yang sering dilapisi emas. Pun sepanjang abad pertengahan, sunat dilakukan oleh petugas laki-laki yang religius. Konon, ada kemungkinan bahwa dokter tidak melakukan sunat sampai paruh kedua abad ke-19.

 

Mulai diterapkan secara umum dan jadi kontroversi

Sunat masih berlanjut hingga kini. Menurut Ancient Origin, sepertiga dari pria di seluruh dunia disunat, terutama di kalangan Muslim dan Yahudi, karena alasan agama. Di luar itu, sunat tersebar luas di Amerika Serikat dengan alasan kesehatan.

Namun,  di sisi lain, banyak organisasi medis utama dunia tidak setuju ada manfaat yang signifikan dari sunat. Sunat dianggap menjadi kontroversi karena kekhawatiran kurangnya informasi cara pembedahan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia. (Binsasi)