Pahlawan Bersenjata Mesin Kartu Kredit

Minggu, 17 Maret 2019 – 20:00 WIB

Abdul Aziz (FOTO: AFP Photo/Anthony WALLACE)

Abdul Aziz (FOTO: AFP Photo/Anthony WALLACE)

JAKARTA, REQNews - Tujuh orang terbunuh dalam serangan di Mesjid Linwood. Ini adalah mesjid kedua yang terserang pada Jumat (15/3/2019) lalu. Saat persitiwa terjadi, para jamaah berlutut untuk berdoa.

Namun barang kali jumlah korban jiwa bisa jauh lebih tinggi jika bukan karena tindakan heroik Aziz. Ia telah mengalihkan perhatian dan mengusir pria bersenjata itu. Tindakan heroiknya telah menarik perhatian publik.

Ketika Abdul Aziz seorang pengungsi asal Afghanistan melihat seorang pria mengacungkan pistol di luar Masjid di Christchurch, Selandia baru, ia berlari menuju penyerang bersenjata itu dengan satu-satunya senjata dia bisa menemukan, yaitu mesin kartu kredit genggam.

"Kamu tidak punya banyak waktu untuk berpikir. Apa pun yang kamu pikirkan, kamu lakukan saja. Kamu tahu,” kata Aziz kepada AFP. Ia pun menghapus label “pahlawan" saat umat Muslim setempat berkumpul dab berterima kasih padanya karena telah menyelamatkan kerabat dan teman mereka.

Ketika mereka mendengar suara keras dari pistol yang ditembakkan di luar mesjid, Aziz dan keempat putranya sedang beribadah di dalam masjid.

Awalnya ia mengira seseorang menyalakan petasan. Namun perkiraan itu berubah menjadi kecurigaan. Ia segera berlari keluar dari masjid dan mengambil alat pengolah kartu kredit kecil.

Di luar mesjid, dia terkejut lantaran menemukan seorang pria bersenjata mengenakan seragam bergaya militer.

"Awalnya, saya tidak tahu apakah dia orang baik atau orang jahat. Tapi ketika dia mulai bersumpah, aku tahu dia bukan orang baik,“ katanya.

Aziz melemparkan mesin itu ke sang pelaku dan kemudian ia merunduk di antara beberapa mobil. Pada saat itu, penyerang melepaskan rentetan tembakan padanya.

Aziz kemudian mendengar salah satu putranya berteriak, "Ayah, silakan kembali ke dalam!”

Tanpa terluka, Aziz mengambil senapan kosong yang dibuang oleh pria bersenjata itu dan  berteriak, "Ayo sini!” 

Ia mengucapkannya berulang kali sebagai upaya mengalihkan perhatian si pelaku sehingga dapat menjauh dari mesjid.

"Ketika dia melihat pistol di tanganku, aku tidak tahu apa yang terjadi, dia menjatuhkan pistol itu. Aku mengejarnya dengan senjataku sendiri ... Aku berhasil melemparkan pistol ke mobilnya dan menghancurkan jendela mobil. Aku bisa melihat dia agak takut,” tuturnya.

Kemudian Aziz mengejar si penyerang saat ia melaju menggunakan mobilnya. Aziz pun kembali ke masjid dan di situ ia menyaksikan sesuatu yang mengerikan.

Mengomentari tindakan penyerangan bersenjata itu, Aziz mengatakan, ”Banyak orang mengatakan kepadanya bahwa dia adalah pria bersenjata. Tapi ... seorang pria tidak pernah menyakiti siapa pun bukan manusia; dia pengecut.” (Prazz)