Grab Digugat Rp 1 Miliar oleh Pemilik Kedai Kopi, Ini Sebabnya

Sabtu, 28 Desember 2019 – 12:30 WIB

Ilustrasi Ojek Online Grab (Foto:Istimewa)

Ilustrasi Ojek Online Grab (Foto:Istimewa)

PURWOKERTO, REQNews - Grab digugat pemilik kopi sebesar satu miliar, pasalnya pemilik kedai kopi "Kopigrafi" Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah tidak merasa mendaftarkan kedainya dan menu yang ditulis tidak sesuai, bahkan sangat merugikan.

Pemilik kedai kopi itu merasa dirugikan dengan adanya akun toko fiktif pada aplikasi Grab Food yang menggunakan nama tempat usahanya itu.

"Klien kami merasa dirugikan karena ada toko fiktif di aplikasi Grab Food dengan menggunakan nama 'Kopigrafi'," kata kuasa hukum Widhiantoro, Djoko Susanto, di Purwokerto, Jumat, 27 Desember 2019.

Djoko mengatakan akun toko fiktif yang mengatasnamakan "Kopigrafi" itu menawarkan berbagai menu makanan berbahan daging babi, sehingga berbeda dengan kedai aslinya yang berjualan kopi.

"Selain itu, klien kami juga tidak pernah mendaftarkan tokonya, 'Kopigrafi', ke Grab," katanya.

Kedai "Kopigrafi" mulai ada tercantum namanya di Grab Food pada tanggal 30 Juli 2019.

Pihak Widhiantoro telah melayangkan somasi kepada pihak Grab dan pihak Grab sudah mengakui kesalahannya dan meminta maaf secara tertulis melalui surat, namun pemilik "Kopigrafi" tetap mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum terhadap Grab, karena merasa dirugikan dengan adanya akun toko fiktif tersebut.

Gugatan tersebut telah didaftarkan ke Pengadilan Negeri Purwokerto dengan nomor registrasi: 86/Pdt.G/2019/PN Pwt tertanggal 27 Desember 2019.

Dia akhirnya memutuskan untuk menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan persoalan tersebut, karena omzet penjualan di kedai "Kopigrafi" turun drastis dampak dari akun toko fiktif yang mengatasnamakan "Kopigrafi" menawarkan makanan berbahan daging babi.

Dalam perkara ini pihak tergugat diminta untuk membayar biaya kerugian imateriil kepada penggugat sebesar Rp1.000.000.000 secara tunai. Apabila ada keterlambatan dalam pelaksanaan putusan, tergugat diminta untuk membayar dwangsom (uang paksa) sebesar Rp1.000.000 setiap hari.