Sugiono Batal Dieksekusi Mati, Ini Alasan Aktivis HAM Apresiasi Kejati Jatim

Kamis, 02 Januari 2020 – 16:00 WIB

Ilustrasi Hukuman Mati (Foto: Istimewa)

Ilustrasi Hukuman Mati (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur memastikan tidak akan mengeksekusi mati Sugiono atau Sugik, seorang terpidana mati kasus pembunuhan satu keluarga di Jojoran, Surabaya pada tahun 1995. Sugik yang saat ini berada di LP Porong, diketahui memiliki gangguan kejiwaan.

Sugik membunuh empat orang yaitu pasangan Sukardjo-Hariningsih serta dua anaknya bernama Eko Hari Sucahyo dan Danang Priyo Utomo.

Sikap kejaksaan ini lantas diapresiasi oleh Ricky Gunawan, Direktur Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat (LBHM). “Berdasarkan standar HAM internasional, eksekusi mati terhadap orang dengan gangguan kejiwaan tidak dapat dibenarkan," kata Ricky di Jakarta, Kamis 2 Januari 2019.

Kata dia, secara hukum positif pun, KUHP menyatakan bahwa orang dengan gangguan jiwa tidak dapat dihukum. Yang secara implisit juga mengandung arti bahwa sesungguhnya eksekusi mati, sebagai sebuah implementasi putusan hakim, terhadap orang dengan gangguan jiwa juga tidak dapat dilakukan.

Pihaknya pun kemudian mendesak Kejati Jawa Timur dan Kejaksaan Agung untuk segera membentuk tim untuk mengidentifikasi terpidana mati lain yang juga mengalami kondisi serupa. Apabila ditemukan, lanjutnya, harus segera dirujuk ke rumah sakit jiwa atau fasilitas serupa untuk diberikan pengobatan dan perawatan yang memadai.

Menurutnya, gangguan jiwa atau yang juga disebut disabilitas psikososial, kerap kali tidak terlihat, kompleks, spektrumnya luas, dan tidak dapat dipukul rata semua. Ricky menyebutkan bahwa LBHM kerap menemukan sejumlah terpidana mati yang mengalami gangguan jiwa dan tidak mendapatkan akses layanan kesehatan jiwa. 

"Para terpidana tersebut seharusnya menjadi perhatian khusus Kejaksaan Agung," kata dia.

(Yohan Misero)