Usai Bikin Geger, Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat Ditangkap Polisi

Rabu, 15 Januari 2020 – 00:00 WIB

Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat. (Foto: Istimewa)

Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat. (Foto: Istimewa)

PURWOREJO, REQnews - Setelah membuat heboh publik, Raja Keraton Agung Sejagat, Sinuhun Totok Santosa, dan istrinya Dyah Gitarja ditangkap polisi pada Selasa 14 Januari 2020 sekitar 17.00 WIB.

Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat ditangkap saat mereka dalam perjalanan menuju ke Keraton Agung Sejagat di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Adanya penangkapan itu dikonfirmasi Dandim 07/08 Purworejo Letkol Muchlis Gasim.

"Memang benar, raja dan isteri Keraton Agung Sejagat sudah diamankan di Polres," ujar Gasim, Selasa 14 Januari 2020.

Kemunculan Keraton Agung Sejagat ini mulai dikenal publik, setelah mereka mengadakan acara wilujengan dan kirab budaya, yang dilaksanakan dari Jumat 10-12 Januari 2020.

Sinuhun, sang Raja mengatakan hadirnya KAS ditengah-tengah masyarakat Purworejo Kerajaan Majapahit yang telah runtuh.

"Keberadaan kami ini untuk menunaikan janji 500 tahun sejak runtuhnya Kerajaan Majapahit, yaitu pada 1518," jelas Totok kepada awak media.

Menurutnya, Keraton Agung Sejagat itu untuk menyambut kehadiran Sri Maharatu (Maharaja) Jawa kembali ke Tanah Jawa. Dia pun mengklaim memiliki wilayah kekuasaan seluruh negara di dunia.

Bahkan, dia menyebut United Nations atau Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merupakan bagian dari kerajaannya. Selain itu, dia mengaku memiliki tugas mengubah semua sistem negara di dunia, baik dalam biadang keuangan, politik, pemerintahan, dan sebagainya.

"Keraton Agung Sejagat (KAS) memiliki alat-alat kelengkapan yang dibangun dan dibentuk di Eropa. Memiliki parlemen dunia yaitu United Nation (UN). Keraton Agung Sejagat juga memiliki International Court of Justice dan Defense Council. Pentagon ini Dewan Keamanan KAS, bukan milik Amerika," tandasnya.

Keraton Agung Sejagat kini memiliki 425 pengikut setia. Mereka juga mengenakan pakaian kebesaran masing-masing berupa setelan warna hitam, lengkap dengan topi dan selempang kuning yang melilit dari pundak ke pinggang.