Lima Tahun Menahan Lapar Demi Pengobatan Adik, Wanita ini Akhirnya Meninggal

Rabu, 15 Januari 2020 – 15:00 WIB

Wu Huayan (Foto:dailymail)

Wu Huayan (Foto:dailymail)

CINA, REQNews - Wu Huayan, 24 tahun, kedua orang tuanya telah tiada dan karena itu dia hidup dalam kondisi kekurangan dan hanya bertahan hidup dari uang santunan pemerintah.

Dilansir dari dailymail, Selasa, 14 Januari 2020, ibunya meninggal ketika dia berusia empat tahun, dan ayahnya menyusul kepergian sang istri 14 tahun kemudian. Dia telah hidup bersama dengan adiknya yang sakit jiwa. Wu tidak punya sumber penghasilan. Tapi dia menerima 300 (Rp595.000) per bulan dari pemerintah daerah.

Namun uang itu lebih banyak digunakan untuk menutupi tagihan medis saudara kandungnya. Selebihnya, dia harus berhemat. Dia bertahan hidup dengan uang 2 yuan (Rp3.900) setiap hari.

Sejak kepergian ayahnya lebih 5 tahun lalu, Wu lebih sering menahan kelaparan. Akibatnya dia mengalami gizi buruk. Beratnya hanya 21,5kg.

"Saya tidak seperti orang lain yang dapat meminta uang dari orang tua mereka. Saya tidak punya orang tua," katanya dalam sebuah wawancara degan Guizhou City News beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan bahwa dengan uang 2 yuan setiap hari, dia hanya bisa makan dua roti uap atau dua mangkuk nasi putih.

"Dulu saya punya banyak rambut. Tetapi di tahun ketiga sekolah menengah, rambut saya mulai rontok, begitu pula alis saya," kata Wu.

Dia menambahkan bahwa saudaranya harus dirawat di rumah sakit pada tahun yang sama. Meskipun pemerintah menanggung setengah dari tagihan medis saudaranya, dia masih harus meminjam 5.000 yuan untuk membayar sisanya.

Wu mengatakan bahwa dia tahu dia kekurangan gizi, tetapi tidak mampu pergi ke rumah sakit. Setelah memasuki perguruan tinggi, Wu mengambil pinjaman mahasiswa dan melakukan dua pekerjaan paruh waktu untuk memperbaiki situasi keuangannya.

Tetapi pada bulan September, teman-teman sekelas Wu memintanya untuk pergi ke dokter setelah melihat kondisi fisiknya yang lemah. Awalnya Wu menolak karena masalah keuangan, jadi teman-teman sekelasnya membawanya ke rumah sakit dengan paksa.

Terlepas dari kekurangan gizi, ia juga memiliki masalah dengan katup jantungnya dan perlu dioperasi. Prosedur itu menelan biaya lebih dari 20.000 yuan. Wu jelas tidak mampu membayarnya.

Tepat ketika Wu menyerah pada perawatan medis karena biaya yang mahal, orang baik mendengar ceritanya dan membantunya menggalang dana online.

Kisahnya juga dilaporkan oleh media berita lokal dan nasional.

Asosiasi Wanita Tongren membagikan kisahnya di akun media sosialnya, dan mendorong masyarakat untuk membantunya.

Orang asing yang baik hati menyumbangkan 700.000 yuan untuknya dalam waktu dua hari.

Biro Urusan Sipil Tongren kemudian menawarkan 200.000 yuan kepada Wu sebagai subsidi darurat.

Pihak berwenang juga berjanji untuk melakukan apa pun untuk memastikan bahwa Wu menerima perawatan medis yang tepat.

Wu telah mengatakan bahwa dia menantikan hari ketika dia bisa pulih. "Saya masih ingin menulis artikel dan puisi saya. Inilah kehidupan yang saya inginkan," katanya.

Tapi takdir berkata lain. Dia meninggal dunia pada hari Senin di rumah sakit.