Ribuan Anggota Interpol dan Imigrasi Buru Caleg PDIP Harun Masiku

Sabtu, 18 Januari 2020 – 17:00 WIB

Harun Masiku Buronan KPK (Foto: Istimewa)

Harun Masiku Buronan KPK (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Mantan caleg PDI Perjuangan Harun Masiku kini menjadi buruan ratusan ribu petugas imigrasi baik Indonesia maupun Singapura. Sebab baru-baru ini Dirjen Imigrasi Kemenkumham, Ronny F. Sompie sudah berkoordinasi dengan otoritas Singapura terkait keberadaan tersangka penyuap eks Komisioner KPU Wahyu Setiawan tersebut.

Sebelumnya, Ditjen Imigrasi menyebut Harun berada di Singapura sejak Senin 6 Januari 2020, atau 2 hari sebelum Wahyu terjerat operasi tangkap tangan (OTT) KPK. Koordinasi dengan otoritas Singapura itu untuk mengetahui lokasi pasti keberadaan Harun apakah masih di Singapura atau tidak.

Sebab menurut kabar yang beredar, lanjut Sompie, Harun telah kembali ke Indonesia pada Selasa 7 Januari 2020. "Tentang keberadaan terakhir yang bersangkutan (Harun), tentu ini perlu dikoordinasikan dengan otoritas negara di mana yang bersangkutan berada," kata Ronny di Festival Keimigrasian, Gedung Pusat BRI, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Sabtu 18 Januari 2020.

Selain itu, kata Ronny, koordinasi juga dilakukan dengan Interpol untuk membawa kembali Harun ke Indonesia. "Apakah akan menggunakan kerja sama untuk memudahkan kembalinya yang bersangkutan ke Indonesia, itu juga tentu membutuhkan kerja sama. Baik Kementerian Luar Negeri, bisa juga dengan jalur kepolisian, Interpol," ucapnya.

Sementara terkait status cegah yang diminta KPK pada 13 Januari, Ronny mengatakan, permintaan itu tidak mubazir, meski Harun ada di luar negeri. Ia menyebut status cegah itu berfungsi mendeteksi bila sewaktu-waktu Harun kembali ke Indonesia.

"Dengan ada permintaan pencegahan maka kita akan berkoordinasi kan kembali masuk dalam cekal. Artinya, ketika dia (Harun) akan masuk kembali (ke Indonesia), kita bisa tahu dia sudah masuk dan kita akan serahkan pada penyidik KPK," ucapnya.

Sebelumnya, dalam perkara di KPK, Harun menjadi tersangka bersama Wahyu Setiawan; eks caleg PDIP sekaligus orang kepercayaan Wahyu, Agustiani Tio Fridelina; dan swasta yang juga eks caleg PDIP bernama Saeful.

Total menerima suap Rp 600 juta dari commitment fee sebesar Rp 900 juta. Rinciannya, Rp 400 juta diterima Wahyu dari Harun melalui Saiful dan Agustiani. Sementara Rp 200 juta masih didalami KPK terkait sumber dananya.

Suap tersebut dilakukan untuk memuluskan langkah Harun menggantikan caleg pengganti Riezky Aprilia dalam mekanisme Pergantian Antar Waktu (PAW) di DPR RI. Kasus ini diduga menyeret Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto.

Sebab, Saeful disebut-sebut merupakan staf Hasto. Terkait hal tersebut, Hasto membantah terlibat kasus dugaan suap itu. Hasto menyebut ia telah menjadi korban tudingan tak benar.