Menkeu Tak Mau Sembarangan Suntik Dana ke Jiwasraya, Lalu Kapan Duit Nasabah Balik?

Sabtu, 08 Februari 2020 – 11:00 WIB

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) II Kartika Wirjoatmodjo mengatakan uang yang akan digunakan untuk membayar hak nasabah PT Asuransi Jiwasraya (Persero) masih menunggu persetujuan DPR.

Kartika mengatakan pihaknya mengatakan harus berdiskusi dengan Panitia Kerja (Panja) Komisi VI dan Komisi XI DPR.

"Tapi memang nanti untuk persetujuan penggunaan kasnya dari mana memang kita harus diskusi dengan Komisi VI dan XI dulu lah," kata Kartika di Kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta Pusat, Jumat 7 Februari 2020.

Saat ini, Kementerian BUMN sudah melakukan pembahasan dengan Kementerian Keuangan dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Selanjutnya perlu dibahas juga dengan Panja DPR.

Namun, mantan Dirut Bank Mandiri itu belum bisa bicara terlalu detail mengenai skema pembayaran uang nasabah karena belum adanya persetujuan.

"Ya belum disetujui ya belum bisa ngomong detailnya lah," katanya.

Selanjutnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani juga tak mau sembarangan suntik duit ke Jiwasraya.

"Apabila saya diyakinkan bahwa law enforcement terjadi, karena kalau nggak, nanti orang akan gampang bilang 'oh ini miliknya pemerintah, jadi dirusak-rusak saja'. Nantikan kemudian kalian akan bilang 'kepercayaan pada pemerintah rusak, maka Kemenkeu akan bail-in'," kata Sri secara terpisah.

Ia menegaskan, meski Jiwasraya adalah BUMN, penegakan hukum tetap berlaku dalam kasus korupsi perusahaan.

"Jadi kami sebagai pengelola keuangan yang prudent tetap menjaga yang dari sisi dari law enforcement tadi, dari sisi good corporate governance, dan dari sisi reputasi pemerintah," tegas mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut.

Meski dalam penyelesaiannya ia tak berfokus dalam mencari pihak yang bersalah, namun menurutnya pemerintah tak akan melepas pelaku begitu saja.

"Jadi ya memang sesuatu yang terjadi semua orang kan cari siapa-siapa yang salah, ya kita enggak, kita coba move on, tapi tidak berarti kesalahan langsung ditutup supaya orang enggak belajar lagi. Kan enggak, karena kita tahu bahwa ini harus dipelajari," paparnya.