Duh! Radikalisme Menjamur di Indonesia, Wakapolri Malah Salahkan Internet

Sabtu, 15 Februari 2020 – 12:00 WIB

Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono

Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono

JAKARTA, REQnews - Berkembangnya radikalisme di Tanah Air telah meresahkan semua pihak, termasuk Polri. Entah siapa yang salah, namun Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono malah menjadikan keberadaan internet sebagai 'kambing hitam' kemunculan paham-paham radikal.

Ia berkata, siapapun kini bisa bebas mengakses internet melalui smartphone, sehingga paham-paham radikal mudah merasuki masyarakat, termasuk tubuh Polri sekalipun.

Gatot berkaca dari kasus dua orang polwan di Polda Maluku Utara yang kedapatan mempelajari paham radikal melalui media sosial. Sampai-sampai polwan itu mau melakukan aksi teror.

Selain itu, Gatot mengingatkan, dari 61 negara yang diteliti tingkat literasinya ternyata Indonesia berada di urutan ke-60. Hal ini menurutnya sangat mengkhawatirkan dan menjadi sebab mudahnya radikalisme berkembang.

"Kemudian mayoritas orang Indonesia membaca berita hanya dari headline atau judul saja kemudian langsung membagikan di media sosial," kata Gatot di Padang, Jumat 15 Februari 2020.

Pada sisi lain ia menilai semakin tinggi pemahaman seseorang terhadap radikalisme maka akan semakin tinggi keinginannya melakukan perubahan di negara dalam bentuk aksi kekerasan hingga terorisme.

"Apalagi bagi yang ingin mengubah ideologi negara menjadi ideologi lain dengan menggunakan semua sumber daya yang dimiliki," ujarnya.

Wakapolri mengingatkan salah satu tantangan yang dihadapi adalah penggunaan media sosial yang bijak di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi. Apalagi akan ada pihak yang menggunakan media sosial sebagai sarana propaganda dan menyebar ujaran kebencian untuk menciptakan disintegrasi sehingga perlu kewaspadaan menyikapi.