Pub Black Owl Disegel Pemprov DKI Gegara 12 Pengunjungnya Positif Narkoba

Selasa, 18 Februari 2020 – 05:00 WIB

Ilustrasi Pemprov DKI Jakarta (Foto: Istimewa)

Ilustrasi Pemprov DKI Jakarta (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Izin usaha PT Murino Berkarya Indonesia selaku pemilik usaha Restaurant dan Pub Black Owl di PIK akhirnya dicabut. Hal ini merupakan buntut dari penemuan 12 pengunjung positif narkoba.

Kepala Disparekraf DKI Jakarta Cucu Ahmad Kurnia mengatakan pihak manajemen diskotek diduga lalai terhadap pengawasan.

"Ya, sampai ada laporan-laporan masyarakat terus Polda tindak lanjuti dengan razia dan ada yang positif 12 orang berarti lalai manajemennnya," kata Cucu ketika dimintai konfirmasi, Senin 17 Februari 2020.

Pencabutan izin usaha Restaurant dan Pub Black Owl terhitung sejak 17 Februari 2020. Sementara untuk penyegelan, akan dilakukan dalam waktu dekat.

"Nanti itu Satpol PP yang segel," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Jajaran Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya merazia tempat hiburan malam di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara. Polisi menangkap 12 pengunjung yang positif menggunakan narkoba.

"Memang betul semalam kami lakukan razia di salah satu tempat hiburan. Sebanyak 12 orang yang diamankan masih diperiksa, 12 orang yang teridentifikasi positif (narkoba)," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus saat dihubungi, Sabtu 15 Februari 2020.

Pihak manajemen Black Owl, Efrat Tio, pun mengklarifikasi bahwa tempat hiburan malamnya bukan diskotek, melainkan restoran dan pub. Mereka juga membantah adanya peredaran narkoba di dalamnya.

"Yang perlu diluruskan adalah Black Owl itu bukan diskotek. Ini konsepnya, hanya restoran, bar, dan lounge. Pada malam tersebut, ada 250-an pengunjung dan ada beberapa memang terindikasi positif saat tes urine. Menurut keterangan dari kepolisian, pengunjung konsumsi di luar dan di dalam tidak ada peredaran. Ada pengunjung yang positif bukan karena narkoba, tapi memang ada resep dokter seperti mengonsumsi obat radang paru-paru atau psikotropika," ujar Efrat dalam keterangan tertulis, Senin 17 Februari 2020.