Kena PHK, Pilot dan Pramugara Ini Beralih Profesi Antar GrabFood

Minggu, 24 Mei 2020 – 03:01 WIB

Thanun Khantatatbumroong, Pilot yang bergabung dengan GrabFood(Foto: Agencia EFE)

Thanun Khantatatbumroong, Pilot yang bergabung dengan GrabFood(Foto: Agencia EFE)

JAKARTA, REQNews – Kosit Rattanasopon dan Thanun Khantatatbumroong terkena pemutusan hubungan kerja karena krisis yang disebabkan oleh wabah virus COVID-19. Dulu keduanya bekerja di perusahaan maskapai sebagai pilot dan pramugara dengan gaji yang besar.

Dikutip dari Motopinas, Sabtu 23 Mei 2020, dua pria asal Thailand itu, mencari cara lain untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keduanya memutuskan untuk bergabung ke salah satu perusahaan ojek online, mengantar makanan. Uniknya, mereka melakukan itu dengan sepeda motor yang diperoleh saat masih bekerja di maskapai.

Motor tersebut memang bukan kendaraan ideal untuk melayani pengantaran makanan. Namun, jika dijual harganya akan sangat jatuh dan belum tentu juga ada yang mau membelinya.

Setiap hari, Thanun yang sebelumnya berprofesi sebagai pilot di maskapai Thai Lion Airways berkeliling mengantar makanan yang dipesan melalui aplikasi GrabFood. Ia melakukan itu, dengan mengendarai motor gede BMW R 1200 GS Adventure. Di Indonesia, motor ini dijual dengan harga Rp700 jutaan.

“Meski hanya mendapat untung 10 Baht (Rp4.600), tetap saja itu keuntungan. Kita lakukan apa yang bisa dilakukan,” ujarnya.

Bersama beberapa rekannya yang dulu juga bekerja di maskapai, ia membuat layanan pengantaran makanan sendiri juga. Tiap hari, mereka bisa mendapatkan untung bersih 1.000 Baht atau setara Rp464 ribu.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Kosit, pria berusia 37 tahun yang selama beberapa tahun belakangan ini bekerja sebagai pramugara di Orient Thai Airlines.

Setiap pagi, ia memasang ransel pada motor Ducati Multistrada 1200 miliknya, dan berkeliling mengantar pesanan GrabFood. Sebagai tambahan, Rosit juga membantu pengiriman makanan buatan sendiri yang disiapkan oleh adiknya.

Hasil yang didapat memang jauh, dibandingkan dengan gaji saat masih menjadi pramugara dan pilot. Namun, Rosit dan Thanun tidak mau berpangku tangan menyerah dengan keadaan.