Ngaku Panglima Kumbang, Udin Balok Jadi Buronan Organisasi Dayak

Kamis, 28 Mei 2020 – 17:03 WIB

Udin Balok yang ngaku Panglima Kumbang (Foto:Istimewa)

Udin Balok yang ngaku Panglima Kumbang (Foto:Istimewa)

JAKARTA, REQNews - Panglima Kumbang ramai disorot publik, lantaran turut hadir dalam pembebasan Habib Bahar bin Smith.  Sosok tersebut wajah dan sekujur tubuhnya penuh tato, dia pun diperkenalkan Habib Bahar sebagai Panglima Kumbang.

Panglima Kumbang merupakan figur spiritual yang paling dihormati dalam legenda suci dan mitos suku Dayak. Di mana, sosok itu selalu disebut-sebut di dalam penerapan adat istiadat dan hukum adat Dayak sebagai sumber doktrin di dalam religi masyarakat Dayak.

Dan diyakini (Panglima Kumbang) selalu hadir setiap kali orang Dayak mendapat ancaman pihak lain di dalam berbagai bentuk.

Sejak diperkenalkan oleh Habib Bahar sebagai Panglima Kumbang, sosok tersebut viralnya dan itu membuat sejumlah masyarakat Dayak protes, dan menyebut kalau Panglima Kumbang yang hadir dalam pengawalan Habib Bahar adalah palsu.

Organisasi Dayak Internasional (DIO) pun ikut turun tangan atas klaim Panglima Kumbang yang disematkan pada pengawal Habib Bahar tersebut. Setidaknya keterangan resmi Organisasi Dayak Internasional disampaikan pada Selasa, 26 Mei 2020.

Surat edaran Organisasi Dayak Internasional

 

Menurut surat edaran yang ditandatangani Presiden DIO Jeffrey G Kitingan, dan Sekjen DIO Yulius Yohanes, disebutkan kalau sosok yang mengaku Panglima Kumbang tersebut adalah Udin Balok dan bukanlah Panglima Kumbang, yang terus diklaimnya hingga kini.

“Dia bukan orang Dayak, melainkan orang dari Pasuruan, Jawa Timur. Pada tahun 2000, pernah menetap di Desa Bajarum, di pinggir sungai Mentaya, dekat Kotawaringin Timur. Dan sekarang sudah tidak diketahui lagi keberadaannya,” sebut DIO.

Adapun Udin Balok memiliki nama asli Saprudin.

Dalam surat edarannya, warga Dayak pun diminta segera melaporkan kepada otoritas yang berwenang jika menemukan keberadaan Udin Balok, apalagi jika kedapatan melakukan aktifitas religi masyarakat Dayak.

Karena sekali lagi, Udin Balok bukan orang Dayak, dan Panglima Kumbang, seperti yang diklaimnya hingga kini.

Organisasi ini juga meminta seluruh masyarakat Dayak menertibkan sesuai dengan hukum adat terhadap Udin Balok dan oknum-oknum orang Dayak yang menjadi pengikutnya.

DIO mengatakan apa yang dilakukan Udin Balok dan sejumlah oknum Dayak bertentangan dengan unsur religiusitas, dan spiritualitas di dalam masyarakat Dayak. Di mana masyarakat Dayak menganut trilogi peradaban kebudayaan, seperti hormat dan patuh kepada leluhur, hormat dan patuh kepada orangtua, serta hormat dan patuh pada negara.

Sebelumnya, Biro Hukum Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Tengah juga telah bersuara soal klaim Udin Balok. Suara itu dinyatakan secara terbuka oleh Biro Hukum DAD Letambunan Abel.

“Bahwa orang ini yang selalu membawa-bawa nama Dayak di mana-mana, dan mengaku sebagai Panglima Dayak, setelah kami telusuri bahwa mereka ini bukan orang Dayak dan tidak ada keturunan Dayak,” kata Letambunan di akun Facebook-nya.

Untuk itu DAD Kalimantan Tengah meminta Udin Balok untuk berhenti mengaku dan mengatasnamakan Dayak. “Agar yang bersangkutan menghentikan aktivitasnya yang berhubungan dengan mengatasnamakan Dayak,” tulis Letambunan.