Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!
Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!

Sumarsih Tolak Opsi Rekonsiliasi untuk Kasus Pelanggaran HAM Masa Lalu

Rabu, 17 April 2019 – 20:00 WIB

Maria C Sumarsih (Foto :REQnews/Risno)

Maria C Sumarsih (Foto :REQnews/Risno)

JAKARTA, REQnews - Maria Chatarina Sumarsih, ibunda dari Benardinus Realino Norma Irawan (Wawan), mahasiswa Universitas Atma Jaya, Jakarta, yang tewas saat Tragedi Semanggi 1998, menyatakan penolakan terhadap usaha dan opsi rekonsiliasi dan rehabilitasi keluarga korban yang ditwarkan pemerintah. Menurutnya, penyelesaian kasus pelanggaran HAM masa lalu tetap melalui proses hukum. Sumarsih ingin agar pelaku pelanggaran HAM masa lalu itu dihukum seadil-adilnya.

Sumarsih mengatakan hal ini pada acara diskusi yang diadakan oleh Amnesty International Indonesia pada Senin (15/4/2019) di kantor Yayasan Amnesty International Indonesia di HDI Hive, Menteng, Jakarta pusat.

Dengan menyelesaikan kasus pelanggaran hak asasi manusia masa lalu melalui pengadilan, lanjut Sumamrsih, maka dapat dipastikan bahwa undang-undang terkait hak asasi manusia memiliki kepastian hukum yang berlaku bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Perempuan kelahiran Salatiga Jawa Tengah ini mengaku bingung dengan polemik pelangggaran HAM masa lalu yang belum juga tuntas. Seandainya pemerintah dan aparat penegak hukum tegas dan konsisten menegakkan hukum maka Sumarsih memastikan kasus ini telah diselesaikan sejak lama. Hukum yang dimiliki negeri ini lanjut Sumarsih, sebenarnya sudah cukup baik untuk menjerat pelaku pelanggar HAM masa lalu, akan tetapi aparat penegak hukum dan pemerintah itu sendiri yang menjadi halangan untuk menegakkan hukum terkait.

Rekonsililiasi dan rehabilitasi keluarga korban memang opsi yang baik!  Namun Sumarsih kembali menegaskan bahwa cara dan jalan yang ditempuh seperti itu merugikan dan melukai seluruh keluarga korban.

Kata Sumarsih, "Kalau itu yang dilakukan (rekonsiliasi & rehabilitasi keluarga korban) maka kami jelas menolak dan itu melecehkan, menghina sekaligus melukai kami sebagai keluarga korban!" (*/Ris)