Ini Dia Arip Musthopa Penantang Luhut Soal Utang RI

Sabtu, 06 Juni 2020 – 02:03 WIB

 Arip Musthopa (Foto:Istimewa)

Arip Musthopa (Foto:Istimewa)

JAKARTA, REQNews - Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan punya penantang baru yakni Arip Musthopa. Sebelumnya dosen Universitas Indonesia, Djamester Simarmata juga siap meladeni Luhut untuk berdiskusi soal utang.

Berbagai kalangan mengajukan diri menantang Luhut ini berawal ketika beberapa hari lalu Luhut menantang siapa pun untuk bertemu dan berdiskusi untuk membahas soal utang Indonesia.

Arip Musthopa dikenal sebagai mantan Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) kini dia menjadi entrepreneur.

Dirinya menyatakan siap menjadi cadangan penantang Luhut dalam diskusi soal utang.

“Saya berharap ada respons dari ekonom atau ahli untuk menerima ajakan berdialog/berdebat dengan Menko Kemaritiman, dan apabila tidak ada ekonom/ahli yang berkenan, maka dengan ini saya mengajukan diri menerima tantangan tersebut,” tulis Arip dalam surat yang diposting di akun Twitternya dikutip Jumat 5 Juni 2020.

Pernyataan Arip Musthopa yang dikutip di akun Tuitternya @aripmust

Arip berpandangan, pernyataan tantangan Luhut kepada para pengkritik pemerintah untuk berdiskusi langsung di sisi lain merupakan proses edukasi publik. Namun, pernyataan Luhut soal pengkritik utang pemerintah berupaya membodoh-bodohi rakyat menurutnya adalah pernyataan tendensius.

Menurutnya tidak patut pejabat publik mengeluarkan pernyataan yang terkesan merasa paling benar, begitu pun sebaliknya berlaku bagi pengkritik pemerintah.

Arip mengatakan, dia bukan anti utang dan berpandangan utang bisa dilihat secara positif. Namun demikian, tulis Arip, dalam catatan perjalanan sejumlah negara, utang bisa sangat berisiko bila salah kelola. Sebaliknya pemberi utang bisa sangat berkuasa atas kebijakan pemerintah dan akhirnya kedaulatan negara terganggu.

“Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam hal menjamin dan mengalokasikan dana dari utang,” tulisnya.

Lebih lanjut Arip mengemukakan, bahwa persoalan utang pemerintah saat ini bakal menjadi beban antargenerasi yang akan punya kewajiban membayarnya. Makanya menurut Arip, lebih baik generasi saat ini serius mendiskusikan utang sebagai pertanggung jawaban pada generasi mendatang.