IPW Sebut Novel Periksa dan Sandera Nurhadi di Luar KPK

Minggu, 07 Juni 2020 – 12:32 WIB

IPW Sebut Novel Periksa dan Sandera Nurhadi di Luar KPK

IPW Sebut Novel Periksa dan Sandera Nurhadi di Luar KPK

JAKARTA, REQnews - Cara penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan dalam memeriksa eks Sekretaris MA Nurhadi sangat aneh. Hal itu dinilai Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane usai mendapat kabar bahwa Nurhadi dikabarkan diperiksa dan disandera Novel di luar KPK.

Kata dia, apa yang dilakukan Novel harusnya menjadi perhatian Dewan Pengawas (Dewas) KPK dan mengawasi kinerja penyidik KPK Novel Baswedan dalam penanganan perkara itu.

"IPW mendapat informasi bahwa Novel cs membawa dan memeriksa mantan Sekretaris Mahkamah Agung, Nurhadi, ke sebuah tempat di luar gedung Merah Putih KPK. Jika itu benar terjadi, hal ini adalah sebuah bentuk kesewenang-wenangan dan pelanggaran hukum, serta mencederai rasa keadilan Nurhadi sebagai tersangka," kata Neta di Jakarta, Minggu 7 Juni 2020.

Menurut Neta, dalam melakukan penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, KPK harus tetap patuh hukum. Artinya, Novel tetap harus dikendalikan, baik oleh Dewan Pengawas maupun Pimpinan KPK agar tidak semaunya.

Neta pun membeberkan cara-cara aneh yang dilakukan Novel cs dalam memeriksa Nurhadi. Hal itu katanya untuk mendapatkan dua pengakuan.

"Pertama, apakah Nurhadi berperan besar dalam memenangkan praperadilan Budi Gunawan di PN Jakarta Selatan, saat berperkara dengan KPK yang dipimpin Abraham Samad. Kedua, siapa yang melindungi Nurhadi cs saat buron selama empat bulan," kata dia.

Upaya menggali pengakuan dengan cara 'menyandera' dan memeriksa Nurhadi di luar gedung Merah Putih, menurut Neta, terlihat jelas sangat aneh. Terutama soal dugaan membantu Budi Gunawan memenangkan praperadilan.

"Bagaimana mungkin Nurhadi bisa membantu orang lain untuk memenangkan praperadilan, wong untuk membantu dirinya sendiri saja dia tidak bisa," ujar Neta.

Terbukti kata Neta, kasus praperadilan Nurhadi ditolak majelis hakim PN Jakarta Selatan, sehingga Nurhadi menjadi buronan KPK selama empat bulan. Sebagai penyidik KPK, kata Neta, Novel boleh saja melakukan berbagai teknik penyidikan, tapi tetap harus dalam koridor hukum dan tidak boleh bersikap sewenang-wenang dan seenaknya memaksakan kehendak.

"Jika dicermati, sesungguhnya Novel tidak layak lagi menjadi penyidik yang memeriksa tersangka di KPK. Sebab Novel sendiri adalah tersangka dalam kasus pembunuhan di Polda Bengkulu. Negeri ini memang sangat aneh, kok ada tersangka memeriksa tersangka," ujar Neta.

Ia pun mempertanyakan skema penegakan hukum seperti apa yang bisa ditegakkan Novel, sementara Novel sendiri tidak taat hukum.