Pemerintah Ngaku Salah dalam Pemakaian Diksi New Normal

Sabtu, 11 Juli 2020 – 11:32 WIB

Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto

Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto

JAKARTA, REQnews - Sudah terlanjur banyak dipakai masyarakat, pemerintah belakangan baru mengakui bahwa ada yang kesalahan diksi dalam istilah 'new normal', yang sebelumnya digaungkan.

Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto berkata, diksi yang benar untuk dipakai seharusnya adalah 'adaptasi kebiasaan baru', bukan new normal.

"Waktu social distancing itu diksi yang salah, dikritik langsung kita ubah. New normal itu diksi yang salah, kemudian kita ubah adaptasi kebiasaan baru tapi echo-nya nggak pernah berhenti, bahkan di-amplify ke mana-mana, gaung tentang new normal itu ke mana-mana," kata Yuri di Jakarta, Jumat 10 Juli 2020.

Soal alasan pemerintah mengganti diksi sebelumnya, menurut Yuri adalah karena masyarakat lebih fokus pada kata 'normal' saja, tidak 'new' atau pembaruannya.

Yuri juga berkata, saat ini pemerintah tak mau bicara soal aturan, karena masyarakat tampak mulai jenuh. Ia menyarankan, seluruh warga agar patuh saja pada aturan yang ada terkait penanganan Covid-19 di Indonesia.

"Kami juga menyarankan sekarang ini mungkin kami akan bicara ke depan, tidak lagi dalam berbicara aturan yang dibuat lagi. Jalankan saja, kalau banyak aturan yang dibuat makin pusing kita, makin pusing, jalankan saja," ujarnya.