Selama Pandemi, Dokter Reisa Sebut 14 Ribu Perempuan Indonesia Alami Kekerasan

Sabtu, 11 Juli 2020 – 12:00 WIB

Ilustrasi kekerasan

Ilustrasi kekerasan

JAKARTA, REQnews - Kekerasan berbasis gender meningkat tajam hingga 75 persen selama pandemi corona di Indonesia, sebagaimana disampaikan Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nasional dr Reisa Broto Asmoro.

Ia menyebut, kekerasan gender dimaksud bukan hanya terkait seksual, tapi juga kekerasan fisik, psikologi, ekonomi, ancaman hingga berbagai jeis paksaan lainnya.

Reisa berkata, dari 14.719 kasus kekerasan yang dicatat oleh Komnas Perempuan sepanjang 2020 ini, 75,4 persen terjadi di ranah privat, 24,4 persen terjadi di ranah komunitas, dan 0,08 persen di ranah negara.

Ranah privat, menuruit Reisa, bisa berupa rumah tangga, atau lingkungan pertemanan termasuk masa pacaran.

Kemudian, berdasarkan catatan Komnas Perempuan, dari 14.719 kasus kekerasan terhadap perempuan, 5.548 di antaranya merupakan kekerasan fisik, 2.123 merupakan kekerasan psikis, 4.898 merupakan kekerasan seksual, 1.528 merupakan kekerasan ekonomi, dan 6010 kekerasan oleh buruh migran dan traficking.

"Mengapa kekerasan gender harus diperhatikan secara serius? Karena pihak korban tidak seharusnya dibiarkan hadapi kekerasan ini sendirian. Mereka harus tetap mendapat bantuan dari pihak lain pada masa pandemi ini," kata Reisa dalam keterangan resmi, Jumat 19 Juli 2020.

Reisa menyampaikan, pemberian layanan konseling dan penanganan korban kekerasan terhadap perempuan cukup dilematis bagi petugas. Alasannya, petugas tetap harus mempertimbangkan risiko penularan Covid-19.

Mengatasi tantangan ini, ujar Reisa, maka pelayanan kepada korban kekerasan tetap bisa dilakukan secara online atau daring. Korban kekerasan tetap bisa melaporkan kejadian yang dialaminya melalui pos pengaduan yang berada di bawah Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dan Komnas Perempuan atau layanan aduan di bawah Pemprov DKI Jakarta.