Satu Minggu Aksi Rebellion Extinction, Polisi Lakukan 1.065 Penangkapan

Selasa, 23 April 2019 – 09:00 WIB

Seorang peserta aksi Extinction Rebellion di Waterloo Bridge, London, ditangkap pihak kepolisian pada Minggu (21/4/2019) sore. (FOTO:Penelope Barritt/REX/Shutterstock/ Guardian)

Seorang peserta aksi Extinction Rebellion di Waterloo Bridge, London, ditangkap pihak kepolisian pada Minggu (21/4/2019) sore. (FOTO:Penelope Barritt/REX/Shutterstock/ Guardian)

JAKARTA, REQNews - Pihak Kepolisian Metropolitan London mengatakan, terhitung pada hari Senin (22/4/2019), pukul 10.00 waktu setempat pihaknya telah melakukan 1.065 penangkapan. Dari jumlah itu, 53 orang telah didakwa terkait dengan aksi Rebellion Extinction yang disebut-sebut merupakan aksi pembangkangan sipil terbesar dalam sejarah Inggris saat ini.

Roger Hallam, seorang pendiri dan penyelenggara di balik gerakan Extinction Rebellion ini, mengatakan, jumlah penangkapan itu melebihi jumlah penangkapan saat aksi protes antinuklir di Upper Heyford pada tahun 1982, yaitu mencapai 752 penangkapan. Selain itu, saat terjadi kerusuhan jajak pendapat terkait pajak pada tahun 1990, pihak kepolisian melakukan 399 penangkapan.

Demikian laporan Guardian, Senin kemarin, tentang aksi yang telah dilakukan sejak 15 April 2019 di lima titik di London. Aksi protes ini digelar di Parliament Square, Marble Arch, Oxford Circus, Waterloo Bridge dan Piccadilly Circus. 

Para aktivis dan peserta aksi Extinction Rebellion memblokir Oxford Circus, London. (FOTO: Facundo Arrizabalaga/ EPA/ Guardian)

Polisi telah membersihkan Waterloo Bridge pada Minggu (21/4/2019) dari para aktivis. Sehari sebelumnya, polisi juga telah mengosongkan Oxford Street dan Parliament Square dari para aktivis.

Kini, para peserta aksi berpindah ke titik utama mereka, yaitu Marble Arch. Di sini, mereka telah mendapat izin secara resmi untuk melakukan aksi.

Guardian melaporkan, banyak orang di Marble Arch menikmati pertunjukan musik di bawah sinar matahari. Sementara itu, para aktivis lingkungan melakukan protes di Museum Sejarah Alam di Kensington Selatan, London. 

Para peserta Extinction Rebellion di dalam Museum Sejarah Alam, London. (FOTO : Tolga Akmen/AFP/Getty Images/ Guardian)

Di museum itu, sebagian aktivis mengenakan topeng putih, berkerudung dan berjubah merah. Mereka berkumpul di bawah kerangka paus biru sembari mendengarkan pertunjukan musik klasik. Namun ada juga yang berbaring di lantai dalam keadaan "mati" untuk meningkatkan kesadaran tentang kepunahan massal terhadap banyak spesies makhluk hidup.

Aksi dalam Extinction Rebellion di Museum Sejarah Alam, London. (FOTO: Tolga Akmen/AFP/Getty Images/ Guardian)

Aksi yang nyaris melumpuhkan London ini bernama Extinction Rebellion (Pemberontakan Kepunahan). Tujuan dari aksi yang dijadwalkan berlangsung hingga 29 April 2019 ini adalah menggunakan pembangkangan sipil tanpa kekerasan untuk mencegah kerusakan iklim. Para peserta aksi mengadakan pertemuan publik pada Senin sore untuk memutuskan tindakan selanjutnya. 

Hallam juga mengatakan bahwa pihak penyelenggara telah mendapat konfirmasi dari pihak kepolisian bahwa tidak ada petugas polisi yang terluka dalam protes minggu lalu. Hallam mengatakan protes akan berlanjut setidaknya untuk satu minggu lagi. 

Perihal harapannya terhadap aksi ini, Hallam mengatakan, "Kami berharap bahwa kelas politis akan terbangun, karena jika tidak, hal berikutnya yang akan terjadi akan jauh lebih dramatis." 

Kelompok ini berencana mengadakan demonstrasi minggu ini di Parliament Square ketika anggota parlemen kembali ke Westminster setelah reses. (Prazz)