54 Kapal Vietnam-Cina Masuk ke Laut Natuna, Bu Susi Pasti Nangis Lihat Ini

Senin, 27 Juli 2020 – 16:30 WIB

54 Kapal Vietnam-Cina Masuk ke Laut Natuna, Bu Susi Pasti Nangis Lihat Ini

54 Kapal Vietnam-Cina Masuk ke Laut Natuna, Bu Susi Pasti Nangis Lihat Ini

JAKARTA, REQnews - Mantan Menteri KKP Susi Pudjiastuti pasti menangis membaca berita ini. Sebabnya, kapal ikan berbendera Cina bernama Lu Rong Yuan Yu 701 memasuki kawasan Laut Natuna Utara pada 21-22 Juli 2020. Indonesia Ocean Justice Initiative (IOJI) mendeteksi keberadaan kapal pukul 15.22 WIB yang melintas dari Selat Malaka.

Tak cuma kapal Cina, ada 54 kapal asing diduga asal Vietnam memasuki kawasan Laut Natuna Utara. Pencitraan satelit ESA Sentinel-2 mendeteksi keberadaan 54 kapal itu yang diduga menangkap ikan secara ilegal. Berdasarkan pencitraan satelit, ke-54 kapal tanpa transmitter ini berlokasi di antara lintang 6.55 – 6.75 dan garis bujur 107.85 – 108.3. Wilayah tersebut masuk ke dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.

Puluhan kapal ini terlihat berpasang-pasangan dalam melaksanakan operasinya, persis metode penggunaan alat tangkap pair trawl. Padahal, berdasarkan Pasal 21 Peraturan Perikanan Nomor 71/PERMEN-KP/2016, pair trawl masuk dalam kategori merusak dan mengganggu keberlanjutan sumber daya ikan sehingga dilarang penggunaannya.

Asal tahu saja, Lu Rong Yuan Yu 701 merupakan kapal penangkap ikan China dengan alat tangkap longline. Diduga, kapal ini memasuki wilayah Laut Natuna Utara untuk menangkap ikan secara ilegal (illegal fishing).

Automatic Identification System (AIS) melacak 4 pergerakan kapal ini di Natuna Utara pada 21 dan 22 Juli pukul 04.07 WIB, 09.43 WIB, 11.31 WIB, dan 21.43 WIB. Berdasarkan analisis tracking AIS, dugaan penangkapan ikan dilihat dari posisi garis lurus sesuai pola penangkapan ikan menggunakan longline pada umumnya.

Alat tangkap kapal berbasis di Shandong, China ini dibentangkan di laut dengan posisi garis lurus. "Jika melihat gambarnya, jarak antara titik x dan 3 adalah kurang lebih 20 km. Selisih waktu dari titik 2 ke titik 3 mencapai 2 jam. IOJI menganalisis kecepatan kapal berada pada kurang lebih 10-11,5 knot, sesuai pola umum kecepatan kapal longline saat menurunkan alat tangkap ke laut," tulis IOJI dalam keterangan tertulis, Senin 27 Juli 2020.

Kapal yang diketahui milik Rongcheng Chisian Ocean Fisc Co., Ltd ini terlihat melambat dan berputar arah kembali ke lokasi alat tangkap longline diturunkan. Kapal longline umumnya memang kembali dengan kecepatan rendah ke lokasi alat tangkap diturunkan untuk mengangkat hasil tangkapannya ke atas kapal.

"Dikarenakan kapal-kapal tersebut tidak mengaktifkan trasmitter pada saat beroperasi, maka informasi mengenai kecepatan, identitas kapal dan jenis pair trawl (apakah bottom pair trawling atau midwater pair trawling) tidak didapatkan. Namun demikian, Pola operasi kapal pair trawl secara umum adalah kapal bergerak secara bersamaan dengan kecepatan yang konstan dan jarak antar kapal tetap sama selama jaring ditarik1. Jarak antar kapal sekitar kurang lebih sebesar 300 – 400 meter," tulis IOJI.

"Dari pengamatan citra satelit didapatkan fakta bahwa jarak bukaan antara kapal di Laut Natuna Utara adalah 300 – 500 meter," sambungnya.

IOJI memastikan data pencitraan Satelit ESA Sentinel-2 tersebut memiliki kesesuaian dengan data yang diterbitkan oleh International Fusion Center di Singapura. Data per semester 2020 menyebutkan, perairan Indonesia merupakan wilayah laut yang paling banyak terjadi insiden illegal fishing oleh kapal ikan asing. "Pelaku illegal fishing terbanyak berasal dari Vietnam."