Donald Trump Asal Bicara, Membuat PM Selandia Baru Ardern Geram

Rabu, 19 Agustus 2020 – 03:03 WIB

PM Selandia Baru Jacinda Kate Laurell Ardern (Foto:Istimewa)

PM Selandia Baru Jacinda Kate Laurell Ardern (Foto:Istimewa)

SELANDIA BARU, REQNews - Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Kate Laurell Ardern menepis pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyebut kasus virus corona di negaranya melonjak tidak terkendali.

Selandia Baru memang mengalami lonjakan kasus Covid-19 lagi dalam sepekan terakhir, namun jumlahnya masih terbilang kecil.

Ardern mengaku kecewa dengan ucapan Trump, apalagi menyebutkan bahwa Selandia Baru mengalami gelombang besar. Bukan hanya itu, Trump meminta warganya untuk menghindari bepergian ke Negeri Kiwi itu. Ardern menyebut pernyataan itu terlalu dibesar-besarkan seraya membadingkan jumlah kasus di negaranya dengan AS.

"Siapapun yang mengikuti (perkembangan) akan dengan mudah melihat sembilan kasus Selandia Baru dalam sehari tidak sebanding dengan puluhan ribu di Amerika Serikat. Jelas, itu salah," kata Ardern, dikutip dari AFP, Selasa, 18 Agustus 202).

Selandia Baru mendapat pujian internasional karena sukses mengendalikan wabah Covid-19. Namun penemuan cluster di Auckland baru-baru ini memaksa otoritas memberlakukan lockdown kembali di kota terbesar Selandia Baru tersebut.

Dalam kampanye pemilihan presiden di Minnesota, Senin, 17 Agustus 2020, Trump menjawab kritikan banyak pihak dengan menyebut, salah menjadikan Selandia Baru sebagai contoh negara yang sukses mengendalikan wabah.

"Anda lihat, apa yang terjadi di Selandia Baru. Mereka mengalahkannya (virus corona), mereka mengalahkannya. Itu seperti halaman depan (berita), mereka mengalahkannya karena mereka ingin menunjukkan sesuatu kepada saya," kata Trump, kepada para pendukungnya.

"Lonjakan besar di Selandia Baru, ini mengerikan. Kami tidak menginginkan itu," ujarnya.

Selandia Baru, dengan populasi 5 juta jiwa hingga saat ini mengonfirmasi sekitar 1.300 kasus virus corona terhitung sejak 8 bulan lalu. Hingga saat ini masih ada sekitar 70 kasus aktif.

Sementara itu AS merupakan negara nomor 1 dalam jumlah kasus infeksi dan kematian. AS mengonfirmasi lebih dari 5 juta kasus, sebanyak 170.000 lebih di antaranya meninggal dunia.