Teror di Masjid Toronto, Umat Muslim Minta Polisi Bertindak

Jumat, 21 Agustus 2020 – 16:32 WIB

islamophobia, Masjid di Toronto diteror (Foto:Istimewa)

islamophobia, Masjid di Toronto diteror (Foto:Istimewa)

KANADA, REQNews - Masjid di pusat kota Toronto, Kanada, kembali mendapat teror ini terjadi hampir tiga bulan terakhir ini. Kaum muslim setempat pun meminta polisi untuk bertindak menangkap para pelaku.

Menyadur Al Jazeera, Jumat, 21 Agustus 2020, Masjid Toronto telah enam kali dirusak dalam tiga bulan terakhir. Pada Minggu, 16 Agustus 2020, jendela-jendela di bangunan itu kembali pecah.

Meskipun penangkapan telah dilakukan atas serangan berulang-ulang, Asosiasi Muslim Kanada (MAC) sangat prihatin dengan apa yang terjadi.

"Tampaknya seseorang mencoba mengintimidasi komunitas Muslim. Ini tidak bisa diterima," kata Munir, anggota MAC.

"Seharusnya tidak ada orang Kanada yang merasa tidak aman di tempat ibadah mereka," tambah pria yang juga bekerja untuk Yaqeen Institute for Islamic Research, lembaga yang bertujuan memecahkan narasi Islamofobia.

Minggu ini, Masjid Toronto menemukan jendelanya pecah untuk ketiga kalinya dalam tiga minggu.

Kejadian itu membuat teror dan vandalisme di masjid sekitaran Toronto yang juga dikelola MAC telah terjadi enam kali dalam tiga bulan terakhir.

Selain jendela yang pecah, ada upaya untuk masuk ke masjid, dan grafiti rasis telah tertulis di dinding dan jendela, menurut MAC.

"Insiden ini sekarang terjadi pada tingkat yang menakutkan dan kami tidak dapat menerima menunggu lebih lama lagi untuk tindakan polisi," kata MAC.

Layanan Polisi Toronto (TPS) mengaku tak tinggal diam dengan teror yang memiliki motif berbau kebencian terkait ras, suku dan agama itu.

Mereka menyebut terus mendalami dan penyelidiki kejadian ini. Perburuan terhadap pelaku teror juga masih berjalan.

"Saat ini ada enam investigasi dan dua penangkapan telah dilakukan sejauh ini," kata TPS.

"Unit Kejahatan Kebencian kami telah mengetahui insiden tersebut dan terus mendukung penyelidikan jika diperlukan."

Meski penangkapan telah dilakukan dalam dua kasus terakhir, Mariam Manaa, manajer hubungan masyarakat MAC, kurang puas.

Dia ingin teror tersebut tidak dianggap sebagai aksi kejahatan biasa. Tindakan itu dinilainya harus dipandang sebagai kejahatan bermotif kebencian.

"[Kasus itu] berada di bawah kerusakan, bukan di bawah vandalisme atau niat untuk menyakiti atau membenci," kata Manaa.

"Masalahnya adalah dalam tiga sampai empat hari, mereka akan dibebaskan lagi jika mereka ditangkap dan mereka dapat kembali dan lagi merusak masjid."

"Kami ingin penyelidikan lebih lanjut dan ingin polisi mengambil tindakan lebih lanjut. Kami tidak ingin ini terulang kembali," tandasnya.