Kasus Pinangki, Proposal Fatwa Pembebasan Rasa Perampokan

Kamis, 17 September 2020 – 15:01 WIB

Kasus Pinangki, Proposal Fatwa Pembebasan Rasa Perampokan

Kasus Pinangki, Proposal Fatwa Pembebasan Rasa Perampokan

JAKARTA, REQnews - Duet makelar kasus yakni jaksa Pinangki Sirna Malasari dan Andi Irfan Jaya tak hanya mencoreng nama institusi penegak hukum di Indonesia. Ternyata mereka juga diduga 'merampok' uang Djoko Tjandra. 

Aksi tersebut terjadi dalam pengurusan fatwa bebas terpidana kasus cessie Bank Bali tersebut. Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung Febrie Adriansyah mengatakan bahwa perjanjian antara Djoko Tjandra dengan Jaksa Pinangki Sirna Malasari dan Andi Irfan Jaya putus di tengah jalan.

Hal itu terjadi lantaran Djoko Tjandra curiga atas kinerja kelompok tersebut. "Ternyata Djoktjan curiga, sehingga putus urusan fatwa," ujar Febrie pada wartawan 3 September 2020 lalu.

Djoko Tjandra curiga lantaran ia tak pernah menerima tindak lanjut dari tawaran fatwa bebas tersebut. Bahkan ia sempat menyampaikan rasa kecurigaannya itu kepada mantan pengacaranya, Anita Dewi Anggraeni Kolopaking.

Proposal pengurusannya pun tidak masuk akal. Pada kenyataannya, tidak ada perkembangan atau progress dari apa yang sudah ditawarkan. Sshingga Djoko Tjandra merasa ditipu, dan pada Desember 2019, ia tak pernah menghubungi duet Pinangki-Andi Irfan. 

Selain itu, Andi Irfan disebut-sebut mengharuskan Djoko Tjandra menandatangani security deposit yang bakal dijadikan jaminan atas terlaksananya proposal tersebut.

Draft akta kuasa menjual akan diajukan oleh Andi Irfan dan objek yakni berupa aset milik Djoko Tjandra yang mengajukan, untuk selanjutnya dibuatkan akta pembebanan hak tanggungan atau kuasa menjual dengan estimiasi waktu pelaksanaan mulai 13-23 Februari 2020.

Namun setelah menelaah, Djoko Tjandra menemukan kecurangan. Ia menyadari bahwa akta itu akan memberikan kuasa mutlak kepada Andi Irfan, sehingga eks politikus NasDem itu bisa menjual asetnya kapan saja. Karena itu Djoko Tjandra merasa mau dirampok.