Operasi Yustisi, AKBP Fahri Kena Semprot Sopir Angkot

Senin, 21 September 2020 – 12:31 WIB

Operasi Yustisi, AKBP Fahri Kena Semprot Sopir Angkot

Operasi Yustisi, AKBP Fahri Kena Semprot Sopir Angkot

JAKARTA, REQnews - Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Fahri kena semprot sopir angkot bernama Gorlin Simbolon. Gorlin protes karena terjaring operasi yustisi yang digelar petugas gabungan di Jalan Jati Baru, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Dalam operasi itu, Gorlin tidak terima ditindak karena angkotnya mengangkut 6 orang penumpang. Ia berdalih hanya membawa 6 penumpang plus dia sendiri di dalam angkot. 

Alasan lainnya, dari pemberitaan di televisi bahwa angkot boleh angkut maksimal 6 penumpang. "Saya lihat berita di TV penumpang biasanya 12 orang, kan kita penumpangnya 6 orang," kata Gorlin di Jakarta, Senin 21 September 2020.

Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Fahri pun memberikan penjelasan kepada Gorlin soal aturan kapasitas 50 persen angkutan umum. "Jadi gini Pak, penumpang ini termasuk pengemudi, jadi bukan jumlah penumpang. Tapi jumlah kapasitas orang. Jadi kapasitas orang itu...," kata Fahri.

Masih belum terima, Gorlin langsung memotong pembicaraan tersebut. Petugas yang lain pun mencoba mendengarkan keluh kesah sopir angkot tersebut.

Menurut Gorlin, pemerintah harus memiliki kebijakan yang tegas soal jumlah penumpang. Ia sempat mengancam akan mogok

"Jadi Bapak itu harus ada kebijakan, bilamana (tidak) berhenti semua. Tidak usah angkut penumpang, saya berhenti semua, berhenti semua deh kita nggak usah jalan. Mau diapain ini rakyat susah," ujarnya.

"Saya Gorlin Simbolon untuk saat ini berkurang penumpang 50 persen. Jadi penumpang awalnya 12 orang sekarang berkurang 6 orang. Kita ikutin aturan," ucapnya.

Ia berharap pemerintah juga memberikan perhatian kepada para sopir angkot. Dia meminta ada tunjangan yang bisa diberikan oleh pemerintah kepada mereka.

"Jadi solusinya gampang. Bilamana... kita disuplai Rp 75 ribu atau Rp 50 ribu kita diam nggak jalan. Tapi kita butuh makan loh. Bilamana dibayarkan Rp 100 ribu sehari, kita diam nggak usah jalan. Kita sekarang bawa penumpang 6 orang kali Rp 3.000 itu Rp 18 ribu, mau makan apa?," kata dia.