Gak Jadi Dituntut, Benny Tjokro dan Heru Hidayat Kompak Postif Corona

Jumat, 25 September 2020 – 11:46 WIB

Gak Jadi Dituntut, Benny Tjokro dan Heru Hidayat Kompak Postif Corona (Foto: Istimewa)

Gak Jadi Dituntut, Benny Tjokro dan Heru Hidayat Kompak Postif Corona (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Sidang tuntutan dua terdakwa kasus Asuransi Jiwasraya harusnya dibacakan pada Kamis 24 September 2020 batal digelar. Pasalnya, Direktur Utama PT Hanson International Benny Tjokrosaputro (Bentjok) dan Komisaris PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) Heru Hidayat kompak positif corona.

Seharusnya, Benny Tjokro sedianya menjalani sidang tuntutan bersama Heru Hidayat dan juga Direktur PT Maxima Integra, Joko Hartono Tirto. Namun karena Benny Tjokro dan Heru Hidayat, hanya tuntutan Joko yang dibacakan jaksa.

Joko Hartono Tirto dituntut penjara seumur hidup karena dinilai terbukti melakukan korupsi yang merugikan keuangan negara senilai Rp 16,807 triliun terkait pengelolaan keuangan dan dana investasi pada Jiwasraya.

Bentjok didakwa melakukan tindak pidana pencucian uang yang berasal dari korupsi pengelolaan dana dan penggunaan dana investasi pada PT. Asuransi Jiwasraya (Persero). "Mengapa terdakwa Benny sampai ada di rumah sakit?" tanya ketua majelis hakim Rosmina di pengadilan Tipikor Jakarta.

"Sejak tanggal 23 September langsung masuk kamar isolasi karena terkonfirmasi positif COVID-19," kata dokter RS Adhyaksa yang dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Agung.

Atas penjelasan tersebut, majelis hakim pun menunda sidang. "Jadi kami, setelah mendengar penjelasan dari dokter dan setelah bermusyawarah ternyata kami menahan terdakwa Benny di Rutan Kejaksaan Agung. Namun dengan penjelasan ini, terdakwa sedang berada di RS dan terkonfirmasi COVID-19. Kami berpendapat, kami tidak bisa menyidangkan karena itu sudah melanggar hak asasi kalau menyidangkannya dan kami minta JPU segera mengajukan surat untuk dibantarkan supaya kami punya dasar untuk membantar," kata Rosmina.

Atas pembantaran tersebut, penasihat hukum Benny pun meminta untuk dipindahkan ke rumah sakit lain. "Kami akan pikirkan tingkat kesembuhan dan lain-lain, sampai saat ini kami belum bisa mengizinkan untuk pindah rumah sakit," ujar Rosmina.

Sementara Komisaris PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) Heru Hidayat juga dirawat di RS Adhyaksa karena COVID-19. "Jadi terdakwa Heru sudah kita bantar artinya dia nyata secara hukum dianggap sakit sehingga orang sakit sudah pasti tidak bisa ikut sidang. Jadi untuk Saudara Heru kita nyatakan tidak bisa diikutkan," kata hakim Rosmina.

Pengacara Heru juga minta kliennya dipindahkan dari RS Adhyaksa karena Heru punya penyakit bawaan yaitu sakit jantung yang perlu pengawasan serius. "Kami menyatakan tidak bisa menunjuk RS lain karena terkait tingkat pengawasan. Bukan kami ingin menyulitkan tapi kalau terdakwa Heru dipindah harus ada petugas karena penetapan kami harus memerintahkan dikawal 1x24 jam dan kami berdoa supaya Pak Heru cepat sembuh," kata Rosmina.