Bobol! Intelijen Cina Curi 2.100 Data Orang Indonesia, Termasuk Catatan Bank

Senin, 28 September 2020 – 04:00 WIB

Intelijen Cina Curi 2.100 Data Orang Indonesia, Termasuk Catatan Bank

Intelijen Cina Curi 2.100 Data Orang Indonesia, Termasuk Catatan Bank

JAKARTA, REQnews - Aparat intelijen Indonesia tampaknya kecolongan baru-baru ini. Kabarnya, Shenzen Zhenhua Data mencuri database informasi ribuan warga Indonesia.

Shenzen Zhenhua Data merupakan perusahaan yang memiliki hubungan dengan jaringan militer dan intelijen Beijing. Mereka membocorkan data 2.100 warga Indonesia dan digunakan oleh dinas intelijen Cina.

Informasi itu pertama kali diungkap seorang akademisi Amerika Serikat (AS) yang berbasis di Vietnam, Profesor Chris Balding. Basis data tersebut bocor ke tangan Balding, yang hingga tahun 2018 bekerja di Universitas Peking.

"Cina benar-benar membangun pengawasan negara besar-besaran di dalam negeri maupun internasional. Mereka menggunakan berbagai macam alat - alat ini diambil terutama dari sumber publik, ada data non publik di sini, tetapi terutama diambil dari sumber publik," kata Balding seperti dilansir dari kantor berita Australia, ABC, Minggu 27 September 2020.

"Saya pikir ini berbicara tentang ancaman yang lebih luas dari apa yang sedang dilakukan Cina dan bagaimana mereka mengawasi, memantau, dan berusaha memengaruhi bukan hanya warga negara mereka sendiri, tetapi warga di seluruh dunia," ujarnya lagi. 

Balding memberikan database tersebut kepada perusahaan keamanan cyber Canberra Internet 2.0 yang mampu memulihkan 10 persen dari 2,4 juta catatan individu tersebut.

Kepala eksekutif Internet 2.0 Robert Potter mengatakan Zhenhua telah membangun kapasitas untuk melacak kapal angkatan laut dan aset pertahanan. Tujuannya untuk menilai karier perwira militer dan membuat katalog kekayaan intelektual pesaing Cina. 

Klien utama Zhenhua diketahui adalah Tentara Pembebasan Rakyat dan Partai Komunis Cina. Pengumpulan data massal ini terjadi di sektor swasta Cina, dengan cara yang sama Beijing mengalihkan kemampuan serangan dunia maya ke subkontraktor swasta. 

"Dalam prosesnya, perusahaan telah melanggar privasi jutaan warga global, persyaratan layanan dari hampir semua platform media sosial utama dan meretas perusahaan lain untuk mendapatkan datanya," kata dia. 

Dari 250.000 catatan yang ditemukan, ada 52.000 tentang warga Amerika, 35.000 Australia, 10.000 India, 9.700 Inggris, 5.000 Kanada, 2.100 orang Indonesia, 1.400 Malaysia dan 138 dari Papua Nugini.

Ada 793 warga Selandia Baru yang diprofilkan dalam database, 734 di antaranya ditandai dengan minat khusus atau terpapar secara politik.

Perusahaan ini menyusun akun Twitter, Facebook, LinkedIn, Instagram dan bahkan TikTok, serta berita, catatan kriminal, dan pelanggaran perusahaan.

Meskipun sebagian besar informasi telah diambil dari materi open source, beberapa profil memiliki informasi yang tampaknya bersumber dari catatan rahasia bank, lamaran pekerjaan, dan profil psikologis. Perusahaan tersebut diyakini telah mengambil beberapa informasinya dari dark web alias web gelap.