Gelar Mahasiswa Berprestasi Dicabut, IM Gugat Eks Kampus Mahfud MD

Senin, 28 September 2020 – 19:01 WIB

Universitas Islam Indonesia (Foto:Istimewa)

Universitas Islam Indonesia (Foto:Istimewa)

YOGYAKARTA, REQNews - Kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh alumnus Universitas Islam Indonesia (UII) berinisial IM yang sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu, memasuki babak baru. Kini IM mengajukan gugatan kepada UII yang mencabut gelar mahasiswa berprestasi yang selama ini disandangnya.

Gugatan IM kepada UII dilakukan di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Yogyakarta, Senin, 28 September 2020.

Kuasa Hukum IM, Abdul Hamid mengatakan gelar mahasiswa berprestasi tahun 2015 yang disandang oleh IM dicabut oleh UII. Pencabutan gelar tersebut dinilai Abdul hanya mempertimbangkan isu di media sosial.

Abdul menuturkan seharusnya UII menunggu pembuktian hukum baru setelahnya mengambil keputusan. UII, sambung Abdul, justru menjadikan isu di media sosial yang tak ada ketetapan hukum sebagai pertimbangan untuk mengambil keputusan.

"Gugatan ini untuk mengklarifikasi nama baik IM yang sudah jatuh, hancur selama ini, yang paling penting seolah-olah UII membenarkan tuduhan di medsos padahal belum ada pembuktian hukum. Tuntutannya UII harus mencabut Kembali SK tersebut," ujar Abdul, Senin, 28 September 2020.

Abdul menjabarkan jika isu di media sosial dinilai merugikan IM. Selain dicabut gelar mahasiswa berprestasinya, IM juga nyaris kehilangan beasiswanya di Australia.

"Universitas di Melbourne ini juga melakukan investigasi yang dilakukan tim independen. Hasilnya tim investigator tidak menemukan pelecehan seksual seperti yang dituduhkan, sehingga diputuskan oleh Universitas di Melbourne tidak terjadi kesalahan apa pun," ungkap Abdul.

"Kepolisian dan kejaksaan sudah mengeluarkan surat tidak pernah melakukan perbuatan pelanggaran hukum," imbuh Abdul.

Terpisah, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Keagamaan dan Alumni UII Rohidin menerangkan jika UII saat ini sudah menyiapkan tim hukum atas gugatan yang diajukan oleh IM. Rohidin menyebut ada empat hingga lima orang yang telah ditunjuk UII untuk menangani gugatan tersebut.