Pos Polisi di Makassar Diteror, Ini Isi Surat Ancamannya

Selasa, 06 Oktober 2020 – 14:02 WIB

Ilustrasi TKP (Foto:Istimewa)

Ilustrasi TKP (Foto:Istimewa)

MAKASSAR, REQNews -  Pos Pelayanan Satuan Lalu Lintas 702 Polsek Mariso yang berada di Jalan Dr Sam Ratulangi, Kecamatan Mariso, Kota Makassar, diteror oleh kelompok pria misterius pada Senin, 5 Oktober 2020 dini hari.

Menurut saksi mata dua orang pria bersepeda motor yang melakukannya.  Pos polisi tersebut dilempari cat berwarna merah dan meninggalkan selebaran yang berisi makian dan ancaman.

"Iya betul, kejadiannya kemarin," kata Wakil Kepala Polrestabes Makassar, AKBP Asep Marsel Suherman, Selasa, 6 Oktober 2020 pagi.

Asep menyebut bahwa pihaknya tengah mencari tahu siapa kelompok pira misterius yang meneror pos polisi itu.

Tim gabungan pun diterjunlan yakni dari Polsek Mariso, Polrestabes Makassar, dan Polda Sulsel untuk mendalami kejadian tersebut.

Selebaran yang disebar oleh pelaku yang disebut saksi mata terdiri dari dua orang pria itu berisi:

1. Pembunuhan demi pembunuhan terus dilancarkan Negara melalui aparat-aparatnya. Semua itu demi menjaga agar pencurian dan perampasan hak-hak hidup kita yang dilakukan para penguasa dan bos-bos besar dapat berjalan lancar. Maka segala hal yang menghambat akan disingkirkan, diasingkan, ditangkap dan dibunuh.

2. Ingatan kami masih segar dan tidak akan pernah pudar. Kami tidak akan pernah lupa dan memaafkan berbagai brutalitas dan represifitas yang dilakukan aparat. Randi, Yusuf Kardawi, Akbar Alamsyah, Maulana Survadi dan Bagus Putra Mahendra yang dibunuh polisi di saat aksi menolak RUU yang mengekang kebebasan. Nelayan-nelayan Kodingareng yang dipukul, diteror dan ditangkap polisi karena menolak penambangan pasir yang merusak ekosistem laut dan menghancurkan sumber penghidupannya.

3. Kombinasi aparat dan ormas fasis dalam membungkam kawan-kawan Papua di Makassar saat ingin menyerukan penolakan Otsus Jilid II dan Referendum Papua. Demonstran-demonstran di Makassar, Kendari, Solo dan berbagai daerah lainnya yang ditangkap dan direpresi saat aksi 24 September 2019 dan 2020.

4. Penembakan yang dilakukan Polisi sehingga menewaskan warga di Jalan Barukang, Makassar. Dan masih banyak lagi!!!!

5. Kami sadar aparat merupakan an**ng penjaga bagi sistem ekonomi yang hanya menguntungkan mereka yang mempunyai modal dan kuasa.

6.Kami tidak akan tertipu dengan ilusi "melayani dan melindungi". Sebab, kami tahu mereka hanya melayani dan melindung para penguasa dan pengusaha bermodal besar. Satu hal juga bahwa di kantor-kantor bahkan sampai di tempat ini adalah ruang penghisapan aparat dengan dalih aturan, pelanggaran dan segala macam kata gantinya yang digunakan untuk menakuti dan memeras siapapun yang bisa mereka hadang.

7. Penyerangan kami dilandaskan pada semua itu: kemarahan dan kemuakan atas penindasan-penindasan yang Negara lancarkan. Pembunuhan, penggusuran, perampasan ruang hidup, penindasan ras, pembungkaman kebebasan dan berbagai penghancuran hidup lainnya!

8. Penyerangan ini untuk semua kombatan-kombatan yang dibunuh, ditangkap dan diteror karena berjuang melawan penindasan Negara.

9. Ini hanya sebuah permulaan. Kami tidak akan berhenti demi kebebasan dan hidup yang lebih layak. PANJANG UMUR KEBEBASAN! POLISI SU**ALA!